BALI — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan kelangkaan beras kelas menengah masih terjadi di Kota Bandung per Senin (5/10/2026), meski pasokan beras SPHP dari Bulog dan beras super disebut mencukupi. Kelangkaan jenis beras tertentu juga terdeteksi di Cimahi, tempat Disdagkoperind mencatat pasokan beras premium ke ritel modern mulai menipis. Kementerian Pertanian kini menertibkan distribusi untuk mengurai masalah yang menyentuh langsung kantong konsumen kelas menengah ini.
Paragraf pembuka: Farhan menyampaikan hal itu usai memantau kondisi pasar di wilayahnya. Menurut dia, secara kuantitatif total pasokan beras sebenarnya cukup, tetapi persoalan muncul begitu pasokan dipecah berdasarkan jenis beras yang diperdagangkan.
Beras Kelas Menengah yang Menghilang dari Pasar
Farhan menyebut beras kelas menengah menjadi jenis yang paling sulit ditemukan. Padahal permintaan terhadap beras jenis ini paling tinggi di antara segmen lainnya.
"Kemarin-kemarin beras itu masalahnya adalah secara keseluruhan tanpa melihat jenis beras itu cukup sebetulnya secara kuantitatif. Tapi kalau dibagi-bagi beras berdasarkan jenis beras, maka ada beras kelas menengah yang menghilang dari pasar," ucap Farhan, Senin (5/10/2026).
Di sisi lain, beras untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog dinilai melimpah. Beras super juga disebut mencukupi kebutuhan pasar.
Kementan Dilibatkan, Hasil Penertiban Masih Ditunngu
Farhan menuturkan Kementerian Pertanian tengah melakukan penertiban untuk menyelesaikan persoalan itu. Pemkot Bandung masih menunggu hasilnya sebelum menentukan langkah lanjutan.
"Itu sebabnya ada penertiban dari Kementerian Pertanian. Kita sedang menunggu hasil penertiban ini," kata dia.
Pemkot Bandung juga akan mendorong distributor untuk kembali memenuhi kebutuhan beras kelas menengah. Namun Farhan mengakui pihaknya tidak bisa melakukan intervensi langsung karena kelangkaan ini murni mekanisme pasar.
Ia pun enggan menyalahkan distributor. "Kan semua juga kalau lagi kita ngomongin distribusi mah saling menyalahkan, dan itunya mahal, dan itunya susah, dan ininya aduh gitulah," kata Farhan.
Cimahi Telusuri Penyebab Pasokan Premium Menipis
Di Kota Cimahi, Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperind) menemukan pasokan beras premium di ritel modern mulai turun. Temuan itu didapat setelah petugas melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
"Betul beras premium ada penurunan pasokan. Kita barusan dari dua ritel modern memang sedang turun pasokan," kata Kepala Bidang Perdagangan Disdagkoperind Kota Cimahi, Indra Bagjana, Senin.
Indra mengaku belum mengetahui penyebab minimnya pasokan beras premium kemasan ke ritel modern. Merujuk data Badan Pangan Nasional (Bapanas), stok beras premium secara keseluruhan seharusnya masih aman.
"Ini yang sedang kita telusuri penyebabnya. Memang sementara kalau data nasional seharusnya cukup," ujarnya.
Untuk beras curah yang dijual tanpa kemasan di pasar rakyat, Indra memastikan pasokan cukup melimpah. Begitu pula beras medium, baik di ritel modern maupun pasar tradisional.
SiBesti dan Tambahan Kuota SPHP Jadi Penyangga
Bapanas sudah membuka kembali dan menambah alokasi penyaluran beras SPHP untuk menstabilkan pasokan dan harga. Disdagkoperind Kota Cimahi juga akan kembali menjalankan program SiBesti alias Siapkan Beras untuk Masyarakat Cimahi pada bulan ini.
Program itu menyasar warga kurang mampu dan bertujuan menahan laju harga bahan pokok. "Kita akan antisipasi akhir bulan ada SiBesti. Dari Bapanas juga SPHP dibuka lagi dan ditambah kuotanya," kata Indra.
Penutup: Kelangkaan beras kelas menengah di Bandung dan Cimahi menunjukkan persoalan pangan tidak selalu soal jumlah stok nasional, melainkan distribusi antarjenis beras yang dikonsumsi rumah tangga. Hasil penertiban Kementan akan menentukan apakah pasokan beras premium kembali normal dalam waktu dekat.