Rupiah Tertekan di Rp18.207/US$, MSCI dan Lelang SUN Jadi Beban Ganda

Penulis: Yanto Prasetya  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:04:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp18.207/US$ di pasar NDF pada perdagangan pagi.

BALI — Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) melemah ke level Rp18.207/US$ pada perdagangan pagi, tertekan kombinasi penantian keputusan The Fed dan gejolak domestik. Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali naik ke 4,99%, sementara sentimen pasar saham Indonesia terhantam konsultasi MSCI soal klasifikasi Standalone Market.

Tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah sekaligus. Di eksternal, pelaku pasar masih menanti arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dijadwalkan diumumkan besok dini hari waktu Indonesia. Di domestik, sentimen berubah cepat setelah MSCI mengajukan konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia ke Standalone Market.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini terbilang terbatas dan beragam. Yen Jepang menguat tipis 0,06%, diikuti ringgit Malaysia 0,01%. Sebaliknya, won Korea Selatan terkoreksi 0,05% setelah sebelumnya menguat, disusul dolar Singapura 0,01%.

Yield US Treasury Naik, Indeks Dolar Stabil

Harga minyak Brent sedikit terpangkas 1,67% ke posisi US$113,88 per barel pagi ini. Meski begitu, yield US Treasury justru kembali naik 0,8 basis poin ke 4,99% untuk tenor 10 tahun. Indeks dolar AS juga masih bertahan stabil di level 102,37.

Kombinasi tersebut menahan ruang penguatan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah. Penguatan terbatas di sebagian mata uang Asia belum sepenuhnya merembet ke pasar domestik karena episentrum gejolak berada di dalam negeri.

Lelang Surat Utang Mendingin, Penawaran Merosot 52%

Dari sisi pembiayaan, hasil lelang surat utang pemerintah pada 27 Oktober juga mengecewakan. Pemerintah hanya mengantongi pinjaman Rp20,65 triliun, jauh di bawah target indikatif Rp30 triliun.

Penurunan nilai dana yang dihimpun terjadi lantaran penawaran yang masuk ikut merosot. Total penawaran hanya Rp31,09 triliun, turun 52,05% dari lelang sebelumnya pada 13 Oktober yang sempat menyentuh Rp64,86 triliun.

Konsultasi MSCI Perparah Sentimen Pasar

Rencana MSCI menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market menjadi pukulan tambahan bagi sentimen investor. Konsultasi tersebut membuka ketidakpastian soal posisi Indonesia di indeks global, yang selama ini menjadi acuan alokasi dana asing.

Bagi pelaku pasar, dua faktor domestik itu dinilai lebih menentukan arah rupiah ketimbang pergerakan mata uang regional. Pelemahan ke Rp18.207/US$ di pasar NDF mencerminkan ekspektasi pasar terhadap tekanan lanjutan sebelum keputusan The Fed keluar.

Yang Perlu Dicermati Investor

Investor obligasi perlu mencermati kombinasi yield US Treasury yang mendekati 5% dan serapan lelang SUN yang tipis. Keduanya bisa mendorong pemerintah menawarkan imbal hasil lebih tinggi pada lelang berikutnya untuk menarik minat pasar.

Di pasar saham, isu MSCI berpotensi menahan arus dana asing masuk hingga ada kejelasan hasil konsultasi. Pelaku pasar menanti keputusan The Fed sebagai penentu arah jangka pendek, dengan perhatian utama pada sinyal suku bunga dan proyeksi inflasi AS.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top