Denpasar — Pengurus PHRI Bali Trisno Nigroho yang juga Pengamat Ekonomi dan Pariwisata menjelaskan bahwa devisa pariwisata merupakan pemasukan berupa uang asing yang dibawa dan dibelanjakan oleh wisatawan asing selama berada di Indonesia. Ketika wisatawan datang ke Bali, mereka menukar mata uang asing menjadi rupiah, kemudian menggunakannya untuk berbagai keperluan selama tinggal.
Pariwisata Sebagai Ekspor Jasa Tanpa Kirim Barang
Dalam konteks ekonomi nasional, pariwisata dipahami sebagai ekspor jasa dengan cara yang unik. "Kita tidak mengirim barang ke luar negeri, tetapi justru mendatangkan orang luar ke dalam negeri, dan mereka yang membelanjakan uangnya di sini," kata Trisno, mantan Kepala Bank Indonesia Bali.
Kondisi ini menjadikan Bali sebagai salah satu "mesin devisa" nasional di sektor jasa. Setiap peningkatan jumlah wisatawan secara langsung berkontribusi pada peningkatan devisa. Namun, jumlah kunjungan bukan satu-satunya indikator yang penting diperhatikan.
Kualitas Kunjungan Lebih Penting daripada Kuantitas
Rata-rata pengeluaran wisatawan, lama tinggal, dan kualitas pengalaman wisata menjadi faktor krusial dalam kontribusi devisa. "Wisatawan yang tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak akan memberikan kontribusi devisa yang lebih besar dibandingkan kunjungan singkat," jelas Trisno.
Di tingkat daerah, aktivitas wisatawan berdampak langsung terhadap penerimaan pajak, seperti Pajak Hotel dan Restoran (PHR). Meski berbeda dengan devisa, PHR merupakan penerimaan daerah yang berasal dari aktivitas ekonomi wisatawan dan menjadi salah satu sumber utama pendapatan daerah, khususnya Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kota Denpasar.
Tantangan Kebocoran Devisa Pariwisata
Meski memberikan kontribusi besar, sektor pariwisata menghadapi tantangan berupa kebocoran devisa (leakage). Sebagian pengeluaran wisatawan tidak seluruhnya tinggal di dalam negeri karena penggunaan produk impor, kepemilikan usaha oleh pihak asing, dan platform digital global. Kondisi ini membuat sebagian nilai devisa kembali keluar dari Indonesia.
Untuk mengatasi hal tersebut, pengembangan pariwisata Bali harus diarahkan tidak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga meningkatkan kualitas pariwisata. Upaya yang dilakukan antara lain mendorong penggunaan produk lokal, memperkuat UMKM, mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan lingkungan, serta mengoptimalkan kebijakan seperti pungutan wisatawan asing (PWA).
Diversifikasi Sumber Devisa Nasional
Selain pariwisata, sumber devisa negara juga dihasilkan dari ekspor barang seperti CPO, batu bara, nikel, tekstil, kopi, dan produk manufaktur ke pasar internasional. Remitansi dari Pekerja Migran Indonesia yang bekerja di luar negeri, investasi asing langsung, jasa transportasi, keuangan, serta hibah internasional menjadi komponen penting devisa nasional.
Bali sendiri juga memiliki sumber devisa ekspor tekstil, kopi, coklat, cacao, dan ikan tuna yang turut memperkuat posisinya sebagai kontributor devisa nasional. Dengan strategi yang tepat, Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata unggulan tetapi juga contoh bagaimana sektor pariwisata dapat menjadi pilar utama ekonomi daerah dan nasional, memastikan manfaatnya dirasakan secara merata dan berkelanjutan.