Pencarian

508 Bait Geguritan Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung Dibedah di Gianyar, Warisan Spiritual untuk Generasi Hindu

Senin, 18 Mei 2026 • 17:34:01 WIB
508 Bait Geguritan Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung Dibedah di Gianyar, Warisan Spiritual untuk Generasi Hindu
bait geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung dibedah dalam acara di Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Gianyar.

GIANYAR — Sebanyak 508 bait geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung resmi dibedah di Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Minggu (17/5). Buku berjudul Geguritan Peparikan Dharma Yatra Ida Peranda Sakti Wau Rawuh itu merupakan kumpulan catatan perjalanan spiritual sang sulinggih semasa hidupnya.

Acara yang dirangkai dalam peringatan Petinget Lepas Ida Bhatara Lingga ke-10 ini diawali dengan kidung pengulem Siwa dan pembacaan geguritan. Sesi bedah buku dipandu langsung oleh Ida Pedanda Gede Putra Pidada.

Warisan 508 Bait yang Sarat Filosofi Hindu

Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Ida Bagus Made Purwita Suamem, S.S., M.Si., menjelaskan bahwa geguritan tersebut bukan sekadar karya sastra biasa. Di dalamnya terkandung ajaran spiritual dan filosofi Hindu yang bisa menjadi pedoman hidup.

“Peringatan ini menjadi bentuk bhakti dan rasa tresna kepada Ida Bhatara Lingga sekaligus upaya menanamkan nilai spiritual kepada generasi penerus melalui karya sastra dan geguritan,” ujarnya.

Dari Petugas KB hingga Sulinggih yang Disukai

Semasa walaka, Ida Pedanda Gede Made Gunung bernama Ida Bagus Gede Suamem. Lahir di Gianyar pada 31 Desember 1952, ia sempat mengabdi sebagai petugas PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) sejak 1972 sebelum akhirnya menjadi sulinggih.

Sosoknya dikenal luas di Bali karena pendekatan dharma wacana yang humoris. Ajaran agama yang ia sampaikan terasa dekat dan mudah diterima oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Ida Pedanda Gede Made Gunung wafat pada 18 Mei 2016. Kini, warisan pemikiran dan karya-karyanya diteruskan oleh putranya, Ida Bagus Made Purwita Suamem.

Merawat Lontar di Tengah Zaman

Purwita, yang juga berstatus sebagai ASN di Dinas Kebudayaan Bali, aktif merawat ratusan koleksi lontar di Gria Purnawati, Desa Blahbatuh. Ia terlibat dalam pelestarian bahasa, sastra, dan konservasi naskah kuno bersama pemerintah.

Pelestarian lontar dan sastra keagamaan dinilai menjadi bagian penting menjaga identitas budaya Bali. Melalui peringatan Petinget Lepas ini, keluarga besar pasraman berharap ajaran dan keteladanan Ida Pedanda Gede Made Gunung tetap hidup lintas generasi.

Acara dihadiri sejumlah sulinggih, pemangku, bendesa adat, perangkat desa, camat, perbekel, pengurus yayasan, semeton Brahmana Wangsa, sisya pasraman, hingga masyarakat umum.

Bagikan
Sumber: baliprawara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks