BALI — Di Banyuwangi, PT Bumi Suksesindo (BSI) meresmikan Rumah Pintar di Dusun Silirbaru pada November 2025. Fasilitas ini bukan sekadar gedung — enam ruang kelas ber-AC, mushola, dapur, dan ruang UMKM disulap menjadi pusat belajar nonformal. Dua program utama yang langsung berjalan: kursus komputer dan bahasa Inggris gratis untuk siswa SD dan SMP setempat.
Sementara di Maluku Barat Daya, tambang tembaga Wetar yang dikelola PT Batutua Kharisma Permai dan PT Batutua Tembaga Raya (BKP-BTR) mengucurkan beasiswa kepada 162 siswa dan mahasiswa dari enam desa. Tak cuma itu, 33 guru mendapat pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka, dan 800 siswa di Ring I dan II menerima bantuan fasilitas sekolah. Enam guru TK non-ASN juga mendapat honorarium — dukungan yang menyasar 109 anak TK di wilayah tersebut.
Di Sulawesi, anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) — PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) — bergerak di dua front. SCM di Konawe menggelar Mine Tour untuk 90 guru dan tenaga kesehatan, memberikan beasiswa pendidikan tinggi bagi 97 mahasiswa, serta insentif bagi 48 guru honorer. Yang menarik, 16 pemuda lokal mendapat pelatihan dasar operator dump truck.
MTI di Morowali lebih spesifik: melatih dan mensertifikasi operator excavator berbasis K3 untuk tujuh warga lokal. Hasilnya, enam dari mereka kini bekerja di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Program Merdeka Mengajar yang digagas MTI bersama Departemen K3 menjangkau 225 penerima manfaat, plus pembagian peralatan sekolah untuk 339 siswa dan guru SDN Makarti Jaya.
Gorontalo: Pengajar Muda Dikirim ke Sekolah Pinggir Tambang
Tambang Emas Pani di Gorontalo — yang dikelola PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) — memilih pendekatan berbeda. Bekerja sama dengan Indonesia Mengajar dan Pemkab Pohuwato, mereka menempatkan empat pengajar selama setahun di empat sekolah lingkar tambang. Tugasnya bukan sekadar mengajar, tapi mendampingi guru dan kepala sekolah memperkuat metode pembelajaran dan manajemen sekolah.
Program ini menjangkau lebih dari 450 penerima manfaat lewat renovasi enam sekolah, bantuan perlengkapan belajar, hingga dukungan bagi anak-anak korban kebakaran di Desa Hulawa. Kolaborasi dengan MGEI Universitas Hasanuddin juga dilakukan untuk memperkenalkan industri pertambangan kepada mahasiswa asal Pohuwato.
Kata Bos Merdeka: Ini Investasi Sosial, Bukan Sekadar CSR
Presiden Direktur MDKA, Albert Saputro, menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar program sampingan. “Bagi Merdeka, pendidikan adalah bagian penting dari investasi sosial perusahaan. Kami ingin masyarakat di sekitar wilayah operasional memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, keterampilan, dan kesempatan untuk berkembang seiring pertumbuhan perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/5).
Albert menambahkan, perusahaan akan terus memperkuat program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri. “Kami percaya peningkatan kualitas SDM harus dibangun secara berkelanjutan. Melalui pendidikan, pelatihan kerja, dan penguatan kapasitas masyarakat, kami berharap semakin banyak talenta lokal yang memiliki keterampilan, kepercayaan diri, dan kesiapan untuk berperan dalam pembangunan daerah,” tutupnya.