BALI — Dua sumur yang berhasil diselesaikan PHKT adalah Sejadi SJ-6 dan Sejadi SJ-4RD1. Sumur SJ-6, yang merupakan sumur bor baru dengan lintasan directional tipe S, menembus kedalaman total 11.266 kaki dan menghasilkan 942 BOPD. Sementara itu, sumur SJ-4RD1—hasil pengeboran ulang (re-drill) dengan kedalaman 9.112 kaki—menyumbang 923 BOPD plus tambahan gas bumi sebesar 0,853 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Total, kedua sumur ini menyumbang 1.865 BOPD bagi lifting minyak nasional.
Efisien, Cepat, dan Nol Kecelakaan
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengapresiasi pencapaian PHKT. Menurutnya, dua sumur tersebut tidak hanya rampung lebih cepat dari rencana awal, tetapi juga menekan biaya di bawah anggaran tanpa satu pun kecelakaan kerja selama proses pengeboran.
"Keberhasilan tersebut didukung oleh peningkatan fasilitas deck guna mendukung pengeboran secara lebih optimal, sehingga memberikan ruang yang lebih leluasa untuk kegiatan operasi," ujar Djoko dalam keterangan resmi, Senin (15/6).
Djoko menambahkan, capaian ini merupakan buah dari kolaborasi erat antara PHKT, SKK Migas, dan seluruh pemangku kepentingan di pusat maupun daerah. "Ini adalah hasil dari semangat kolaborasi, inovasi, dan kegiatan operasional yang paten antar lintas fungsi," jelasnya.
Momentum Percepatan Produksi Migas Nasional
Keberhasilan pengeboran di Lapangan Sejadi diharapkan menjadi pemicu bagi proyek-proyek hulu migas lainnya. Djoko meminta dukungan agar program serupa—mulai dari pengeboran baru, work over, well service, hingga enhanced oil recovery (EOR)—bisa dipercepat dan menghasilkan produksi lebih besar dari target.
"Mohon terus doakan agar pengeboran, work over, well service, EOR, stimulasi dapat lebih cepat dikerjakan dan menghasilkan produksi migas yang lebih besar dari target," pungkasnya.
Dengan tambahan produksi ini, PHKT turut memperkuat posisi Pertamina sebagai motor produksi migas di wilayah Kalimantan Timur, sekaligus berkontribusi pada upaya pemerintah menekan impor minyak dan menjaga ketahanan energi nasional.