CMA saat ini tengah menyelidiki apakah praktik bundling produk, penyematan fitur AI seperti Copilot, dan kebijakan lisensi Microsoft membatasi pilihan pelanggan di Inggris. Regulator telah mengumpulkan masukan dari pelanggan dan pesaing untuk menyeimbangkan argumen Microsoft dengan keluhan di lapangan. Hasilnya, tumpukan dokumen keluhan kini telah dipublikasikan.
Google Sebut Microsoft sebagai 'Gatekeeper' yang Mengunci Pengguna ke Cloud dan AI
Dalam dokumen resmi yang diajukan ke CMA, Google menuduh Microsoft secara efektif bertindak sebagai gatekeeper. Raksasa mesin pencari itu menyebut Microsoft menggunakan posisi dominannya untuk mengarahkan pengguna yang sudah terkurung ke solusi cloud dan kecerdasan buatan (AI) buatan sendiri.
"Microsoft adalah gatekeeper dan menggunakan posisinya yang mengakar untuk mengarahkan pengguna yang sudah terikat ke solusi cloud dan AI mereka sendiri," tulis Google dalam pengajuan setebal puluhan halaman. Tuduhan ini bukan kali pertama muncul, namun menjadi yang paling gamblang disampaikan kompetitor utama dalam penyelidikan resmi regulator.
Dari Dewan Paroki hingga Mozilla: Semua Merasa Dirugikan
Yang menarik, bukan hanya raksasa teknologi yang mengeluh. Killinghall Parish Council, dewan administratif lokal di Inggris, melaporkan biaya tak terduga mencapai £1.100 per tahun gara-gara harus membeli layanan tambahan Microsoft agar Microsoft Teams bisa berfungsi optimal. "Kami khawatir penolakan Microsoft untuk terintegrasi penuh dengan produk pihak ketiga menciptakan biaya tambahan yang tidak perlu bagi dewan paroki," bunyi pernyataan mereka.
Browser Choice Alliance, koalisi yang memperjuangkan kebebasan memilih browser, menuding Microsoft memanfaatkan dominasi Windows dan rangkaian produktivitas M365 untuk mempersulit pengguna beralih ke browser lain. Mozilla, pengembang Firefox, secara spesifik mengeluhkan kebiasaan Windows 11 yang terus mengarahkan pengguna ke Edge, terutama saat proses upgrade sistem.
Collabora, pengembang perangkat lunak perkantoran alternatif, meminta CMA secara eksplisit memasukkan standar format dokumen Office Open XML (OOXML) dalam cakupan investigasi. "Karena aplikasi Microsoft menangani format OOXML sebagai standar de facto dengan kompleksitas yang tidak terdokumentasi, hambatan teknis yang signifikan tercipta bagi suite pihak ketiga yang ingin beroperasi secara mulus," demikian argumen mereka.
Microsoft Membantah: 'AI Membuat Persaingan Semakin Ketat, Bukan Sebaliknya'
Di sisi lain, Microsoft membantah semua tuduhan tersebut. Dalam dokumen tanggapannya, perusahaan menyatakan bahwa mereka menghadapi tekanan kompetitif yang substansial di semua sektor. Di ranah produktivitas, Google Workspace dan LibreOffice disebut sebagai pesaing sengit. Windows, kata mereka, bersaing dengan macOS dan Linux.
Microsoft juga menegaskan komitmennya terhadap keterbukaan dan interoperabilitas. "AI membuat persaingan semakin ketat, bukan sebaliknya," klaim perusahaan yang berbasis di Redmond itu. Namun, argumen ini akan diuji oleh CMA dalam beberapa bulan ke depan.
Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?
Investigasi CMA ini bisa berujung pada penetapan Status Pasar Strategis (SMS) untuk Microsoft. Status ini akan memberi kewenangan kepada regulator untuk melakukan intervensi, termasuk memaksa Microsoft mengubah praktik lisensi yang dianggap menghambat persaingan di pasar cloud. Prosesnya masih panjang: keputusan sementara akan dipublikasikan untuk konsultasi pada Oktober mendatang, dan laporan final baru akan terbit pada Februari 2027.
Bagi pengguna Indonesia, hasil investigasi ini patut dicermati. Praktik bundling dan lisensi yang sama juga berlaku di pasar lokal, meskipun belum ada regulator yang secara khusus menyelidiki dominasi Microsoft di Indonesia. Jika CMA berhasil memaksa perubahan, dampaknya bisa terasa secara global.