BALI — Kehadiran smartwatch dengan segudang fitur canggih—mulai dari pemantau detak jantung, GPS, hingga konektivitas internet—sempat diprediksi bakal menggeser popularitas jam tangan mekanis. Nyatanya, teknologi yang sudah ada sejak abad ke-16 ini justru masih bertahan dan punya penggemar setia di seluruh dunia. Fenomena ini menunjukkan bahwa inovasi digital tidak selalu membuat teknologi lama ditinggalkan.
Beda Cara Kerja, Beda Daya Tahan
Jam tangan mekanis pertama kali berkembang di Eropa pada abad ke-16. Berbeda dengan jam kuarsa atau smartwatch yang mengandalkan baterai dan rangkaian elektronik, perangkat ini bekerja sepenuhnya secara mekanik menggunakan ratusan komponen berukuran sangat kecil.
Sumber energinya berasal dari pegas utama (mainspring) yang menyimpan tenaga. Pada jam otomatis, pegas tersebut akan terisi kembali melalui rotor yang berputar mengikuti gerakan pergelangan tangan pengguna. Artinya, selama rutin dipakai, jam ini tidak memerlukan baterai sama sekali.
Energi yang tersimpan kemudian diatur oleh mekanisme escapement dan roda keseimbangan (balance wheel) agar jarum bergerak dengan kecepatan stabil. Sistem inilah yang menjadi jantung teknologi horologi selama ratusan tahun dan terus disempurnakan hingga sekarang.
Smartwatch Canggih tapi Terbatas Baterai
Di sisi lain, smartwatch menawarkan pendekatan yang berbeda. Selain menampilkan waktu, perangkat ini mampu memantau detak jantung, kadar oksigen dalam darah, kualitas tidur, hingga aktivitas olahraga melalui berbagai sensor elektronik terintegrasi.
Namun, smartwatch memiliki kelemahan utama: kebutuhan pengisian daya secara berkala dan umur baterai yang akan menurun seiring waktu. Sementara jam mekanis dapat terus berfungsi selama puluhan bahkan ratusan tahun apabila dirawat dan diservis secara rutin.
Inovasi Material di Jam Mekanis Modern
Perkembangan teknologi juga tidak berhenti di dunia jam mekanis. Produsen terus menghadirkan inovasi material agar performanya semakin baik. Salah satu yang terbaru adalah penggunaan pegas keseimbangan berbahan Nivachron yang dirancang memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap medan magnet dan benturan.
Teknologi Nivachron ini kini mulai diterapkan pada berbagai koleksi modern, termasuk Mido Ocean Star 200 yang baru diperkenalkan di Korea Selatan. Jam tangan penyelam ini menggunakan mesin otomatis Caliber 80 dengan cadangan daya hingga 80 jam.
Kehadiran Mido Ocean Star 200 membuktikan bahwa inovasi pada jam mekanis masih terus berlangsung, meskipun era digital semakin berkembang pesat. Bagi pengguna yang menghargai rekayasa presisi, ketahanan, dan nilai historis, jam tangan mekanis tetap menjadi pilihan yang sulit digantikan oleh perangkat digital mana pun.