MELBOURNE — Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu (15/4) lalu menjadi momen istimewa bagi diaspora Hindu Bali di Melbourne. Berbeda dengan perayaan di Bali yang identik dengan cuaca panas dan terik, mereka justru merayakannya di tengah musim dingin Australia. Panitia pelaksana dari Krama Mahindra Bali Melbourne menyiapkan dua sesi persembahyangan di aula utama KJRI Melbourne untuk menampung lonjakan peserta.
Dua Sesi untuk 150 Umat: Akomodasi di Tengah Keterbatasan Ruang
Antusiasme umat terlihat sejak sesi pertama dimulai. Para peserta datang dengan membawa banten dan sesaji khas Kuningan, lengkap dengan pakaian adat Bali. Kapasitas gedung KJRI yang terbatas menjadi alasan utama pelaksanaan ibadah dibagi menjadi dua gelombang. Sesi pertama digelar pada pagi hari, sementara sesi kedua menyusul di siang hari.
“Kami sangat bersyukur. Meski jauh dari tanah air, semangat untuk melestarikan tradisi tetap kuat. Cuaca dingin bukan halangan,” ujar salah satu pengurus panitia yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa jumlah peserta tahun ini meningkat dibandingkan perayaan sebelumnya.
Kuningan di Negeri Orang: Tradisi yang Tak Luntur oleh Jarak dan Musim
Perayaan Kuningan di Melbourne ini menjadi bukti bahwa tradisi dan spiritualitas mampu bertahan di tengah modernitas dan perbedaan geografis. Para peserta tidak hanya datang dari Melbourne, tetapi juga dari kota-kota sekitarnya. Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi mengikuti persembahyangan bersama.
KJRI Melbourne menyediakan fasilitas ruangan dan perlengkapan ibadah. Pihak konsulat juga mendukung penuh kegiatan keagamaan diaspora sebagai bagian dari upaya menjaga identitas budaya Indonesia di luar negeri. Tidak ada laporan kendala berarti selama dua sesi persembahyangan berlangsung.
Mengapa Dua Sesi? Lonjakan Peserta dan Keterbatasan Gedung
Keputusan membagi sesi persembahyangan diambil setelah panitia mendata jumlah pendaftar yang melampaui kapasitas ruangan. Dengan kapasitas maksimal sekitar 80 orang per sesi, panitia harus memastikan setiap umat mendapatkan kesempatan yang sama untuk beribadah dengan khusyuk.
“Kami belajar dari tahun lalu. Saat itu peserta membludak dan banyak yang harus berdiri di luar. Tahun ini kami siapkan dua sesi agar lebih nyaman,” jelas panitia. Langkah ini dinilai efektif karena antrean peserta dapat diatur tanpa mengurangi kekhidmatan jalannya upacara.
Banten dan Sesaji: Dibawa dari Rumah, Dipersembahkan di Aula KJRI
Uniknya, para peserta membawa perlengkapan sembahyang secara mandiri. Mulai dari canang, daksina, hingga peras, semuanya disiapkan di rumah masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Hindu Bali tetap dijalankan secara utuh meskipun berada di lingkungan yang serba terbatas.
Suasana haru dan syahdu mewarnai akhir sesi persembahyangan. Beberapa peserta mengaku terharu bisa kembali merasakan atmosfer perayaan Kuningan seperti di kampung halaman. “Ini seperti membawa Bali ke Melbourne,” kata seorang peserta sambil menata banten di atas meja persembahyangan.