BALI — Proyek PLTP Dieng Unit 2 mulai dikerjakan setelah seremoni peletakan batu pertama atau groundbreaking di lokasi PAD 12, Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Dieng. Geo Dipa menargetkan pembangkit anyar ini bisa beroperasi secara komersial pada 2027.
Pembangunan unit kedua ini menambah portofolio pembangkit panas bumi Geo Dipa yang selama ini hanya mengandalkan PLTP Dieng Unit 1 berkapasitas 60 MW. Dengan tambahan 55 MW, total kapasitas terpasang perseroan di kawasan dataran tinggi Dieng akan mencapai 115 MW.
Mengerek Bauran Energi Bersih Nasional
Proyek ini sejalan dengan target pemerintah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025. Sumber panas bumi dinilai sebagai salah satu tulang punggung transisi energi karena sifatnya yang baseload—bisa beroperasi 24 jam tanpa tergantung cuaca.
Geo Dipa juga tengah menggarap proyek serupa di Patuha, Jawa Barat. Perusahaan pelat merah ini ditugaskan pemerintah untuk mengakselerasi pengembangan panas bumi yang potensinya mencapai 24 GW, namun baru tergarap sekitar 10 persen.
Dampak ke Listrik Jawa-Bali
Listrik yang dihasilkan PLTP Dieng Unit 2 rencananya akan disalurkan ke sistem kelistrikan Jawa-Bali. Wilayah ini merupakan pusat industri dan konsumen listrik terbesar di Indonesia, sehingga tambahan pasokan dari EBT bisa mengurangi ketergantungan pada pembangkit fosil.
Selain pasokan energi, proyek ini juga membuka lapangan kerja konstruksi bagi masyarakat sekitar. Pemerintah daerah setempat mendukung penuh karena selain pasokan listrik, aktivitas pengeboran dan operasional pembangkit turut menggerakkan ekonomi lokal.
Kendala yang Dihadapi
Di balik progres positif, pengembangan panas bumi kerap terhambat masalah lahan dan perizinan. Di Dieng, sebagian area WKP berada di kawasan hutan lindung dan lahan milik masyarakat. Geo Dipa mengklaim telah menyelesaikan negosiasi dengan pemilik lahan untuk lokasi PAD 12.
Kendala lain adalah biaya investasi yang tinggi. Setiap MW kapasitas panas bumi butuh investasi sekitar 4–5 juta dolar AS, lebih mahal dibanding pembangkit gas atau batu bara. Namun, biaya operasionalnya lebih rendah karena tidak perlu beli bahan bakar.
Proyek Dieng Unit 2 menjadi salah satu proyek strategis nasional di sektor energi. Keberhasilannya akan menjadi tolok ukur kemampuan Indonesia mengejar target bauran EBT yang ambisius di tengah tekanan pendanaan global.