BALI — Jakarta — Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tengah merumuskan solusi atas defisit pasokan gas yang masuk dalam skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Langkah ini diambil setelah sejumlah industri terpaksa beralih ke Liquefied Natural Gas (LNG) akibat berkurangnya jatah gas murah. Namun, eskalasi geopolitik beberapa bulan terakhir memicu kenaikan harga energi global, termasuk LNG.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa tahap awal saat ini adalah menginventarisir kebutuhan industri dan pasokan gas yang tersedia. Ia memastikan stok LNG dalam negeri masih mencukupi.
“Makanya kita mitigasi dari data hulunya seperti apa suplainya. Lalu keinginan industri-industri ini berapa volumenya. Dari situ kita sudah bisa mendapat gambaran awal, apakah ini cukup atau berapa. Jangan sampai terjadi kekurangan baru industri melakukan klaim,” ujar Laode.