Pencarian

Ribuan Penonton Padati Panggung Ardha Candra, Paguyuban Drama Gong Lawas Suguhkan Lakon “Grenggeng Maya” di PKB Bali 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 • 08:52:01 WIB
Ribuan Penonton Padati Panggung Ardha Candra, Paguyuban Drama Gong Lawas Suguhkan Lakon “Grenggeng Maya” di PKB Bali 2026
Ribuan penonton menyaksikan lakon “Grenggeng Maya” di Panggung Ardha Candra, Denpasar.

DENPASAR — Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL) menghipnotis ribuan pasang mata yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Art Center Denpasar, Kamis (2/7/2026) malam. Lakon “Grenggeng Maya” dibawakan 22 pemain dan 28 penabuh gamelan. Kisahnya mengungkap intrik di Kerajaan Bhuwana Raja: fitnah, ambisi kekuasaan, dendam, hingga pentingnya menghormati orang tua.

Ketua Paguyuban DGL, Anak Agung Gede Oka Aryana, mengaku terkejut dengan membludaknya jumlah penonton. Menurutnya, hal itu menjadi penyemangat bagi para seniman untuk terus menjaga eksistensi drama gong di tengah gempuran hiburan modern. “Beliau (Gubernur Koster) sangat menikmati pertunjukan. Bahkan setelah pementasan beliau cukup lama berada di atas panggung untuk berfoto bersama,” ujarnya, Jumat (3/7/2026), menceritakan apresiasi langsung dari Gubernur Bali Wayan Koster yang hadir sejak awal hingga akhir.

Catatan Kurator: Disiplin Naskah dan Penggunaan Bahasa Bali

Meski menuai tepuk tangan meriah, Kurator PKB XLVIII Tahun 2026, Prof. I Wayan Dibia, memberikan sejumlah catatan evaluasi. Ia menyoroti beberapa adegan yang masih berlangsung terlalu panjang sehingga menurunkan intensitas dramatik. Ia juga menekankan pentingnya disiplin terhadap naskah, terutama saat pemain membawa konteks kekinian atau menyebut nama Bali, padahal cerita berlatar kerajaan fiktif.

“Di panggung PKB, pemain harus disiplin terhadap naskah. Jangan membawa penonton keluar dari dunia cerita. Berbeda dengan pementasan di desa yang lebih menekankan hiburan, di PKB garapan harus memiliki tanggung jawab artistik,” tegas Prof. Dibia. Ia juga mengingatkan perlunya perbaikan penggunaan tingkat tutur bahasa Bali, seperti kata “tiang” dan “titiang” yang harus disesuaikan dengan hubungan antartokoh.

Humor Tanpa Vulgar, Kekuatan Imajinasi Penonton

Di sisi lain, Prof. Dibia memastikan tidak menemukan dialog vulgar selama pementasan. Menurutnya, kekuatan humor drama gong justru lahir dari kemampuan para pemain membangun imajinasi penonton. “Kalau kalimat jorok tidak ada. Justru kekuatan drama gong itu mampu membangun imajinasi penonton tanpa harus vulgar,” katanya.

Gubernur Bali Wayan Koster turut memberikan apresiasi. “Suksma katur majeng ring para seniman terutama para sepuh seniman Drama Gong Lawas atas dedikasinya yang terus menjaga dan melestarikan kesenian drama gong,” ujar Koster dalam sambutannya usai pertunjukan.

Lakon “Grenggeng Maya”: Fitnah, Kesaktian, dan Perebutan Kekuasaan

Lakon “Grenggeng Maya” yang dibawakan malam itu mengisahkan Diah Ratnasari, permaisuri pertama yang terusir akibat fitnah hingga memperoleh kesaktian Aji Grenggeng Maya. Di sisi lain, Diah Bedawati sebagai permaisuri kedua juga mempelajari ilmu yang sama demi merebut kekuasaan dan memengaruhi sang raja. Kisah ini menjadi cermin tentang bahaya ambisi dan pentingnya kejujuran.

Ketua Paguyuban DGL, Agung Aryana, mengucapkan terima kasih kepada seluruh kru yang telah menjalani latihan intensif. Ia juga mengapresiasi arahan Kurator Prof. I Wayan Dibia agar garapan tetap berpijak pada pakem namun tetap menghibur. “Antusiasme masyarakat menunjukkan mereka masih memiliki rasa memiliki terhadap seni drama gong,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: baliprawara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks