BANGLI — Jumlah keterwakilan siswa Bangli di Paskibraka Provinsi Bali tahun ini merosot tajam. Jika tahun sebelumnya delapan orang berhasil lolos, tahun ini hanya setengah dari total kuota yang dikirimkan yang diterima.
Penyebab Kegagalan: Skor TIU Rendah hingga Bentuk Kaki O
Dari sepuluh siswa yang dikirim, hanya lima yang dinyatakan lolos—terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan. Sisanya, lima orang, dipulangkan untuk bergabung dengan Paskibraka tingkat Kabupaten Bangli.
“Berdasarkan penilaian tim juri, beberapa perwakilan Bangli gugur pada tahapan TIU, parade, dan kesehatan. Sebagian siswa mendapatkan skor TIU yang kurang memuaskan,” ungkap Adi saat ditemui di kantornya.
Selain faktor intelegensia, kendala fisik juga menjadi penghalang. Beberapa calon Paskibraka tidak memenuhi standar tinggi badan, memiliki tekanan darah yang belum ideal, hingga ditemukannya kondisi kaki berbentuk O pada salah satu peserta.
Evaluasi Ketat: Tes Fisik dan Medis Bakal Diperketat
Adi mengakui bahwa strategi penjaringan tahun ini kurang tepat. Dari total 90 calon Paskibraka se-Bali, tim juri hanya memilih 74 orang dan mengembalikan 16 orang ke daerah asal—termasuk lima dari Bangli.
Ke depan, Kesbangpol Bangli berencana mengubah pola seleksi. Sebelum dikirim ke provinsi, sebanyak 15 siswa akan diseleksi lebih ketat di tingkat kabupaten. Baru setelah itu, 10 kader terbaik didelegasikan ke provinsi dengan risiko kegagalan yang lebih kecil.
“Evaluasi ke depan adalah menaruh perhatian lebih pada aspek fisik dan medis, seperti tinggi badan, tekanan darah, hingga bentuk kaki. Kami akan memaksimalkan kerja sama dengan Dinas Kesehatan agar tidak kecolongan lagi,” tegas Adi.
Persiapan Paskibraka Kabupaten: Latihan Efektif Hanya 20 Hari
Sementara untuk Paskibraka tingkat Kabupaten Bangli, sebanyak 60 siswa telah dinyatakan terpilih dengan komposisi berimbang—30 laki-laki dan 30 perempuan. Mereka dijadwalkan memulai latihan perdana pada Rabu, 29 Juli 2026.
Proses pengukuran pakaian dinas upacara telah rampung pada Selasa (30/6) lalu. Namun, latihan intensif baru dimulai pada minggu ketiga Juli karena durasi latihan efektif hanya 20 hari. “Hal ini berkaitan dengan faktor keterbatasan anggaran, di mana kami hanya mengalokasikan sekitar Rp1 miliar,” tambah Adi.
Rencananya, para siswa akan menjalani 10 hari latihan peraturan baris-berbaris (PBB) tahap awal, lalu diberikan jeda untuk beristirahat di rumah. Menjelang 17 Agustus, mereka akan dikarantina dalam kamp pelatihan terpusat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Shanti Manah Mahottama Bangli.