BALI — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik baru setelah militer AS melancarkan serangan udara selama tujuh malam berturut-turut. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi ini bertujuan menghukum Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) serta melumpuhkan kemampuan Teheran mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, fakta di lapangan menunjukkan serangan tidak terbatas pada sasaran militer.
Dua Tentara Tewas, 16 Prajurit AS Gugur Sejak Konflik Dimulai
Serangan drone dan rudal ke pangkalan AS di Yordania menjadi pemicu langsung. Dua personel militer Amerika tewas, satu dilaporkan hilang, dan empat lainnya luka-luka. CENTCOM mencatat ini adalah korban jiwa pertama akibat serangan langsung Iran sejak perang pecah. Secara keseluruhan, sebanyak 16 tentara Amerika gugur dan lebih dari 430 lainnya terluka sepanjang konflik.
Washington menyebut operasi balasan ini sebagai langkah "menghukum dengan cepat" IRGC. Sasaran meliputi fasilitas pengawasan militer, infrastruktur logistik, gudang senjata bawah tanah, hingga kemampuan maritim Iran di dekat Selat Hormuz — jalur distribusi energi global yang krusial.
Infrastruktur Sipil Kolaps: Desalinasi Kuwait Terbakar, Listrik Padam
Serangan Iran ke wilayah Teluk memicu kerusakan parah pada fasilitas sipil. Di Kuwait, instalasi penyulingan air laut (desalinasi) dan fasilitas minyak terkena serangan hingga terbakar, melukai sejumlah pekerja dan mematikan beberapa unit pembangkit listrik. Ini adalah serangan kedua dalam dua hari terhadap fasilitas desalinasi Kuwait — padahal 90 persen kebutuhan air bersih negara itu bergantung pada teknologi ini.
Ancaman rudal juga memaksa pemerintah Kuwait menutup wilayah udaranya. Maskapai Kuwait Airways menjadwal ulang sebagian besar penerbangan dari dan menuju ibu kota sebagai langkah antisipasi.
Di sisi lain, televisi pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS menghantam fasilitas listrik dan instalasi desalinasi di Provinsi Hormozgan. Kantor berita IRNA menyebut fasilitas desalinasi Bonji hancur, menyebabkan sekitar 10.000 warga kehilangan pasokan air bersih. Fasilitas serupa di Pulau Qeshm juga mengalami kerusakan. Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, pemerintah Iran mengakui adanya serangan terhadap infrastruktur kelistrikan dan mengimbau masyarakat di provinsi selatan untuk mengurangi konsumsi.
Serangan udara juga merusak dua terowongan dan beberapa jembatan menuju Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran di dekat Selat Hormuz, mengganggu akses transportasi ke kawasan paling strategis di negara itu.
Iran Ancam "Pelajaran Tak Terlupakan", Negara Teluk Siaga Perang
Beberapa saat sebelum AS mengumumkan serangan, Pemimpin Tertinggi Iran melalui televisi pemerintah memperingatkan Washington akan menerima "pelajaran yang tak terlupakan" jika terus menyerang wilayah Iran. Teheran juga mengumumkan penghentian komitmennya dalam kesepakatan sementara gencatan senjata yang disepakati sebulan lalu. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menilai AS telah melanggar isi perjanjian.
Ketegangan menyebar ke seluruh kawasan Teluk. Pemerintah Irak mengaku berhasil menembak jatuh drone penyerang di wilayah Irbil. Sistem pertahanan udara Yordania mencegat rudal Iran yang melintas. Sirene peringatan beberapa kali berbunyi di Bahrain, sementara Arab Saudi mengaktifkan sistem peringatan dini pada Sabtu pagi.
Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Al-Budaiwi, mengecam tindakan Iran dan menuduh Teheran melakukan kejahatan perang karena menyerang infrastruktur sipil serta fasilitas vital di negara-negara Teluk.
Hingga kini belum ada perkembangan baru mengenai upaya mediasi internasional untuk meredakan konflik. Pertempuran yang berpusat di sekitar Selat Hormuz terus mengancam stabilitas pasokan energi global dan keselamatan warga sipil di dua sisi front.