Pencarian

Gianni Infantino Terancam Lengser, Tiga Konfederasi Berbalik Arah dan Mencari Pengganti

Sabtu, 01 Agustus 2026 • 08:26:31 WIB
Gianni Infantino Terancam Lengser, Tiga Konfederasi Berbalik Arah dan Mencari Pengganti
Gianni Infantino menghadapi tekanan dari tiga konfederasi setelah gagalnya rencana investasi swasta FIFA.

BALI — Kekosongan kursi kepemimpinan FIFA mulai menjadi skenario yang realistis. Kegagalan Gianni Infantino meloloskan rencana investasi swasta untuk kompetisi FIFA tidak hanya memicu kemarahan suporter, tetapi juga memecah kepercayaan dari tubuh federasi sendiri. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bahkan menyebut rencana tersebut telah membuka "kelemahan fundamental" dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA.

Pernyataan keras AFC itu sejalan dengan sikap UEFA dan Concacaf yang sebelumnya sudah melayangkan ancaman boikot. Tiga konfederasi ini, yang mewakili hampir seluruh benua, kompak memberi penilaian tajam terhadap gaya kepemimpinan Infantino. Kondisi ini diperparah dengan mundurnya Carlos Cordeiro, penasihat khusus Infantino yang juga ditunjuk Donald Trump sebagai penasihat senior Satuan Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia 2026.

Kritik dari Dalam dan Masa Depan Politik Infantino

Kepercayaan terhadap Infantino tidak hanya luntur dari luar. Kevin Lamour, Chief Operating Officer FIFA, mengungkapkan kepada Associated Press bahwa administrasi FIFA merasa "tertipu" oleh proyek yang diinisiasi presidennya itu. Ini sinyal bahwa perlawanan justru datang dari internal organisasi.

Meski demikian, sejarah FIFA menunjukkan presidennya sulit dijatuhkan. Mantan Ketua FA Inggris, David Bernstein, menilai Infantino mungkin akan selamat karena FIFA bukan organisasi normal. "Jika dia mendapat dukungan dari cukup banyak asosiasi nasional, dia akan tetap bertahan," ujarnya kepada BBC Sport. Mantan wakil presiden FIFA Jim Boyce juga masih yakin Infantino akan terpilih kembali meski mengakui situasi bisa berubah jika tekanan terus berlanjut.

Infantino, yang berusia 56 tahun, telah memimpin FIFA sejak 2016. Ia dua kali terpilih tanpa lawan, sebuah pola yang juga terjadi pada era Sepp Blatter. Namun, surat dukungan untuk periode keempatnya mulai ditarik mundur. BBC Sport mengonfirmasi setidaknya satu anggota UEFA telah mencabut surat dukungannya pekan ini.

Victor Montagliani: Kandidat dengan Modal Politik Terkuat

Jika pemilihan dini digelar, Victor Montagliani adalah nama yang paling banyak disebut. Presiden Concacaf ini terpilih pada 2016 dengan janji reformasi tata kelola, serupa dengan kampanye Infantino saat itu. Montagliani memiliki modal besar: ia menjadi tokoh kunci dalam suksesnya Piala Dunia 2026 yang digelar tiga negara, dan fasih berbahasa Inggris, Prancis, Italia, serta Spanyol.

Politik sepak bola Montagliani juga teruji. Ia berhasil meredam ketegangan saat Arsene Wenger mencoba menggalang dukungan untuk Piala Dunia dua tahun sekali—gagasan yang ia tolak—dan ia tidak pernah sepenuhnya mendukung rencana Piala Dunia 64 tim. Dalam pidatonya di konferensi Leaders 2025, Montagliani menegaskan keyakinannya pada kekuatan sepak bola untuk bertahan dari gejolak kepemimpinan.

"Permainan ini lebih besar dari pemimpin dunia saat ini. Sepak bola akan selamat dari rezim mana pun," kata Montagliani.

Namun, jalan menuju kursi presiden FIFA tidak akan mudah. Infantino masih memiliki basis dukungan dari sejumlah asosiasi nasional, dan sejarah menunjukkan perlawanan terhadap presiden petahana jarang berhasil. Terakhir kali seorang penantang mengalahkan presiden FIFA adalah Joao Havelange pada 1974. Selebihnya, kursi presiden selalu diisi tanpa persaingan.

Bagikan
Sumber: bbc.co.uk

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks