BALI — Mitsubishi akhirnya kembali ke permainan EV global lewat Eclipse Sportback 2027, dan nama yang dihidupkan kembali ini bukan sekadar strategi pemasaran. Kami mendapat kesempatan menguji prototipe pra-produksi di area Seattle, dan kesan pertamanya: mobil ini ringkas, responsif, dan jauh lebih masuk akal secara ukuran dibanding pendahulunya yang mungil—i-MiEV dengan range cuma 62 mil yang gagal menembus pasar AS hampir 10 tahun lalu.
Dasar Teknis: Rebadge Nissan Leaf yang Justru Masuk Akal
Tidak perlu bertele-tele: Eclipse Sportback adalah Nissan Leaf generasi terbaru (redesain 2026) dengan ubahan kosmetik. Ini bukan kabar buruk—Leaf modern adalah EV yang kompetitif. Hanya saja, penjualan Leaf sendiri belum menggembirakan: Nissan hanya mengirimkan 2.184 unit dari Oktober 2025 hingga Juni 2026.
Baterai 75-kWh dan motor listrik 214 hp menggerakkan roda depan dengan torsi puncak 261 lb-ft. Akselerasi 0-60 mph diproyeksikan 6,9 detik—angka yang kami dapat dari pengujian Leaf yang identik secara mekanis. Bukan performa sporty, tapi lebih dari cukup untuk mengikuti arus lalu lintas perkotaan.
Desain: Wajah Baru yang Berani, Sisi Samping yang Familiar
Dari depan, Eclipse Sportback punya identitas yang jelas berbeda dari Leaf. Mitsubishi mendesain ulang lampu depan, bumper, dan grille dengan 20 "gigi" krom—10 di masing-masing sisi logo tiga berlian. Kap mesinnya sama, tapi wajahnya jauh lebih agresif dibanding Leaf yang cenderung datar.
Dari samping, perbedaannya mulai menipis: pelek berbeda, embellisher krom di pilar C, dan handle pintu belakang tersembunyi. Di belakang, ada bumper shield yang sedikit diubah dan huruf MITSUBISHI besar di panel liftgate. Itu saja—sisanya murni Leaf dengan sedikit perbedaan trim.
Pengalaman Berkendara: Tenang, Nyaman, dan Cukup Menyenangkan
Di lalu lintas Seattle yang penuh bundaran dan penyempitan jalur, Eclipse Sportback terasa lincah. Akselerasi instan dari motor listrik membuatnya mudah bermanuver, dan kabinnya luar biasa senyap—hampir tidak ada dengung dari komponen kelistrikan. Pelek 18 inci dengan sidewall cukup tebal memberikan ride comfort yang baik tanpa mengorbankan grip.
Ada lima level regenerative braking (B1 sampai B5), plus tombol e-Step yang dianalogikan eksekutif Mitsubishi sebagai "B8". Sayangnya, ini bukan one-pedal driving sejati—mobil tetap butuh injakan rem untuk berhenti total di bawah 8 mph. Creep torque tetap ada seperti mobil matic konvensional, meski Auto Hold bisa mematikannya setelah berhenti penuh.
Body roll cukup terasa jika dipacu agresif, tapi perilakunya tetap bisa diprediksi. Radius putar 35,4 kaki membuatnya mudah diparkir di ruang sempit. Satu catatan: torsi 261 lb-ft cukup untuk memutar roda depan bagian dalam saat akselerasi keluar tikungan—konsekuensi dari penggerak roda depan murni.
Pengisian Daya: Dual Port yang Cerdas, Tapi Ada Kompromi
Eclipse Sportback mengadopsi strategi dual port dari Leaf. Port NACS (Tesla) di fender kanan depan untuk DC fast charging dengan puncak 150 kW—bisa mengisi 10-80 persen dalam 35 menit dalam kondisi ideal. Adaptor CCS-to-NACS disertakan, dan memasukkan DC fast charger ke navigasi otomatis mengaktifkan battery preconditioning.
Untuk charging AC 240-volt, ada port J-1772 di fender kiri depan dengan onboard charger 7,2 kW—mengisi 20-80 persen sekitar 6,5 jam. Kabel portabel dengan adaptor 240V dan 120V jadi standar. Mitsubishi juga memakai heat pump untuk manajemen termal kabin, baterai, dan motor—efisiensi yang penting di iklim tropis seperti Indonesia.
Kabin: Fungsional, Tapi Ada Detail yang Terasa Murah
Interior serba hitam memadukan panel datar dan diamond-quilted. Materialnya campuran soft dan hard plastic—bukan kemewahan, tapi juga tidak lagi terasa seperti mobil murah era 15 tahun lalu. Namun, ada satu detail yang menurunkan kesan: deretan empat tombol kotak hitam di tengah dasbor untuk Park, Reverse, Neutral, dan Drive. Terlihat murah dan tidak proporsional dengan harga yang ditawarkan.
Kelebihan dan Kekurangan 2027 Mitsubishi Eclipse Sportback
- Kelebihan: Range realistis 282 mil, kabin senyap, handling menyenangkan untuk ukuran EV kompak, dual charging port praktis, harga prediksi kompetitif di kelasnya
- Kekurangan: Pada dasarnya rebadge Nissan Leaf dengan perbedaan kosmetik minimal, bukan one-pedal driving sejati, body roll cukup terasa saat agresif, tombol transmisi terlihat murah, performa 0-60 mph 6,9 detik biasa saja
Verdict: Untuk Siapa Mobil Ini?
Eclipse Sportback cocok untuk mereka yang butuh EV kompak dengan range harian lega, kemudahan pengisian daya ganda, dan kenyamanan berkendara perkotaan—tanpa peduli badge di belakangnya. Kurang cocok untuk yang mencari performa sporty sesuai nama Eclipse atau pengalaman one-pedal driving penuh.
Harga resmi baru diumumkan mendekati tanggal penjualan Oktober, tapi estimasi USD 35.000-40.000 (sekitar Rp 560-640 juta) menempatkannya di tengah persaingan EV kompak. Pertanyaannya bukan apakah mobil ini bagus—ia bagus. Pertanyaannya adalah apakah nama Eclipse cukup untuk membuat orang memilih Mitsubishi daripada Nissan yang identik secara teknis.