Pencarian

Perodua QV-E Bisa Jadi Tulang Punggung EV Daihatsu di Indonesia

Senin, 31 Agustus 2026 • 07:34:31 WIB
Perodua QV-E Bisa Jadi Tulang Punggung EV Daihatsu di Indonesia
Petugas menunjukkan mobil listrik Perodua QV-E dalam sebuah pameran di Bali.

BALI — Peta persaingan mobil listrik murah di Asia Tenggara bisa berubah drastis. Bukan dari China, melainkan dari kerja sama historis yang selama puluhan tahun berjalan satu arah. Perodua, yang dikenal sebagai anak didik Daihatsu, kini justru punya peluang menjadi pemasok teknologi untuk gurunya sendiri.

Wacana ini mencuat setelah Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia Johari Abdul Ghani bertemu Wakil Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Takuo Komori di Tokyo. Dikutip dari Paultan, kedua pejabat membahas kemungkinan pengembangan kendaraan listrik bersama antara Daihatsu dan Perodua di Malaysia.

Mengapa Daihatsu Butuh Perodua Sekarang?

Alasannya sederhana: Daihatsu belum punya mobil listrik murni yang bisa dijadikan fondasi. Sementara Perodua sudah lebih dulu meluncurkan QV-E, kendaraan listrik yang dikembangkan secara mandiri tanpa memakai platform dari mitra Jepangnya.

Ini pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh. Selama ini hampir semua produk Perodua, mulai dari Myvi sampai Axia, berbasis teknologi Daihatsu. QV-E menjadi titik balik karena Perodua terbukti mampu berdiri sendiri dalam pengembangan elektrifikasi.

Presiden dan CEO Perodua, Zainal Abidin Ahmad, sebelumnya memang mengungkapkan bahwa Daihatsu menunjukkan ketertarikan untuk ikut dalam pengembangan EV mereka. Namun bentuk kerja samanya belum final — bisa sekadar kolaborasi pengembangan model baru, atau penggunaan langsung platform QV-E untuk produk berlogo Daihatsu.

Dampak untuk Konsumen Indonesia

Indonesia menjadi pasar yang paling mungkin merasakan efeknya. Daihatsu punya jaringan dealer luas dan basis konsumen kuat lewat model seperti Ayla, Sigra, sampai Terios. Jika perusahaan ini serius masuk segmen EV, infrastruktur pemasaran sudah siap tinggal pakai.

Yang lebih penting, persaingan harga. Pasar mobil listrik nasional saat ini didominasi merek China yang menjual dengan harga agresif. Kehadiran EV bermerek Daihatsu berbasis platform Perodua bisa memberi alternatif baru — mobil listrik dengan harga kompetitif dan layanan purna jual yang sudah dikenal masyarakat.

Kuncinya ada di skala produksi. Jika platform Perodua dipakai oleh beberapa merek sekaligus — Daihatsu dan Toyota disebut-sebut juga sempat menawarkan kolaborasi — volume produksi bakal naik signifikan. Semakin besar volume, semakin murah biaya produksi, dan semakin terjangkau harga jualnya.

Arah Kerja Sama yang Masih Terbuka

Belum ada keputusan resmi yang diumumkan. Skenario yang paling memungkinkan adalah pengembangan model EV baru bersama yang lebih kecil dari QV-E, dengan platform listrik yang sama untuk menekan biaya. Model tersebut kelak bisa dipasarkan dengan merek berbeda di negara berbeda.

Yang jelas, hierarki teknologi di antara kedua perusahaan sedang bergeser. Jika ini terjadi, era di mana Daihatsu selalu menjadi guru bagi Perodua akan berakhir — digantikan hubungan yang lebih setara, atau bahkan terbalik. Bagi industri otomotif ASEAN, ini sinyal bahwa kemampuan pengembangan EV regional mulai diakui, dan Indonesia berpeluang menjadi pasar utamanya.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ototekno.harianjogja.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks