BALI — Sebagian ibu menyusui mengalami perasaan risih, kesal, bahkan jijik saat bayinya menyusu. Kondisi yang dikenal sebagai nursing aversion ini nyata dan dipicu oleh faktor hormon hingga tekanan emosional. Kenali tanda dan cara mengatasinya agar proses menyusui tetap terasa nyaman.
Menyusui memang jadi momen ikatan antara ibu dan bayi. Namun, tidak semua ibu merasakan hal yang sama. Ada kalanya muncul perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan, bahkan saat bayi sedang menyusu dengan tenang.
Perasaan gelisah, ingin segera melepaskan bayi dari payudara, atau sensasi ingin menjauh sering dialami sebagian ibu menyusui. Kondisi ini bukan tanda ibu tidak mencintai bayinya. Ini adalah respons tubuh dan emosi yang punya penjelasan medis.
Apa Itu Nursing Aversion?
Nursing aversion adalah kondisi ketika ibu merasakan emosi negatif selama atau sesaat sebelum menyusui. Rasa kesal, gelisah, mual, hingga jijik bisa muncul tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Kondisi ini berbeda dari sekadar lelah menyusui. Perasaan tersebut biasanya hilang setelah bayi selesai menyusu, tetapi bisa muncul lagi di sesi berikutnya. Beberapa ibu bahkan merasa ingin segera menghentikan proses menyusui meski bayinya masih lapar.
Penyebab Nursing Aversion yang Perlu Dipahami
Nursing aversion tidak disebabkan oleh satu hal tunggal. Kombinasi faktor fisik dan psikologis berperan besar dalam memicu kondisi ini.
- Perubahan hormon: Fluktuasi hormon oksitosin dan prolaktin saat menyusui bisa memengaruhi suasana hati ibu.
- Kelelahan fisik: Kurang tidur dan jadwal menyusui yang padat membuat tubuh lebih sensitif terhadap rangsangan.
- Stres emosional: Tekanan dari pekerjaan, masalah keluarga, atau kurangnya dukungan sekitar memperberat kondisi ini.
- Riwayat kesehatan mental: Ibu dengan riwayat kecemasan atau depresi lebih rentan mengalaminya.
- Nyeri saat menyusui: Puting lecet atau perlekatan yang kurang tepat bisa memicu rasa tidak nyaman yang menetap.
Tanda-Tanda yang Sering Muncul
Setiap ibu bisa merasakan gejala yang berbeda. Namun, beberapa tanda berikut cukup umum dialami:
- Muncul rasa gelisah atau kesal saat bayi mulai menyusu
- Ingin segera menjauh atau melepaskan bayi dari payudara
- Merasa mual, jijik, atau sensitif berlebihan pada sentuhan
- Jantung berdebar dan napas terasa sesak
- Perasaan bersalah setelahnya karena merasa tidak mampu menyusui dengan tenang
Jika tanda-tanda ini muncul terus-menerus, penting bagi ibu untuk tidak memendamnya sendiri. Bicarakan dengan pasangan, keluarga, atau tenaga kesehatan agar mendapat dukungan yang tepat.
Cara Mengatasi Nursing Aversion
Ada beberapa langkah praktis yang bisa dicoba untuk meredakan kondisi ini. Kuncinya adalah mengenali pemicu dan menyesuaikan rutinitas menyusui.
- Ubah posisi menyusui: Coba posisi berbaring atau duduk bersandar agar tubuh lebih rileks.
- Alihkan perhatian: Mendengarkan musik, membaca, atau menonton tayangan ringan bisa membantu mengurangi rasa gelisah.
- Istirahat cukup: Minta bantuan pasangan atau keluarga untuk menjaga bayi saat ibu tidur.
- Kurangi beban pikiran: Bicarakan keluhan dengan orang terpercaya, jangan simpan sendiri.
- Konsultasi laktasi: Konselor menyusui bisa membantu memperbaiki perlekatan dan memberi dukungan emosional.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter
Nursing aversion yang ringan biasanya bisa diatasi dengan penyesuaian rutinitas. Namun, jika perasaan negatif ini berlangsung terus-menerus hingga mengganggu keinginan menyusui, segera cari bantuan profesional.
Ibu juga perlu waspada jika muncul gejala depresi postpartum seperti sedih berkepanjangan, kehilangan minat pada bayi, atau gangguan tidur berat. Dokter atau psikolog dapat membantu menangani kondisi ini dengan tepat.
Nursing aversion bukan tanda kegagalan seorang ibu. Ini adalah sinyal tubuh dan pikiran yang butuh perhatian lebih. Dengan dukungan yang tepat, proses menyusui bisa kembali terasa nyaman bagi ibu dan bayi.