Pencarian

AI Masuk Industri Pariwisata ASEAN, Singapura Latih Pekerja Hotel Gunakan Teknologi

Minggu, 08 November 2026 • 10:33:31 WIB
AI Masuk Industri Pariwisata ASEAN, Singapura Latih Pekerja Hotel Gunakan Teknologi
Pekerja perhotelan mengikuti pelatihan literasi kecerdasan buatan di Singapura sebagai bagian dari pengembangan keterampilan sektor pariwisata.

BALI — Singapura menjadikan literasi kecerdasan buatan sebagai keterampilan dasar bagi pekerja pariwisata dan perhotelan, dari posisi operasional hingga manajerial. Langkah tersebut dibahas dalam forum ASEAN-Korea Roundtable on Tourism di kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat, 6 November 2026. Perubahan teknologi ini turut mendorong negara ASEAN menyusun ulang kurikulum dan pelatihan tenaga kerja sektor perjalanan.

Candace Lim, Deputy Director of Hospitality and Tourism Talent Singapore Tourism Board, memetakan kebutuhan teknologi berdasarkan peran masing-masing pekerja di sektor perhotelan dan pariwisata. Pemetaan itu menjadi dasar penyusunan program pelatihan yang menyasar berbagai jenjang jabatan, bukan hanya kelompok tertentu.

Materi pelatihan mencakup layanan dengan bantuan AI, pemasaran digital, pemesanan daring, keamanan siber, serta etika pengelolaan data. Menurut Candace, keterampilan tersebut perlu menjangkau seluruh lapisan pekerja agar manfaat teknologi tidak menumpuk di satu level saja.

AI Bantu Keputusan, Manusia Tetap Pemegang Kendali

Dalam praktiknya, teknologi dipakai untuk mengolah informasi dengan lebih cepat sebelum keputusan diambil. Candace menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, sehingga pekerja punya ruang untuk menangani persoalan yang butuh pertimbangan lebih mendalam.

Ia juga mengingatkan agar penerapan AI tidak mengikis nilai kemanusiaan dalam industri pelayanan. "Teknologi seharusnya membuat orang-orang kita menjadi lebih manusiawi, bukan sebaliknya," ujarnya dalam panel diskusi tersebut.

Pandangan senada muncul soal posisi manusia di tengah otomatisasi. "AI tidak akan menggantikan pekerja pariwisata. Namun, pekerja pariwisata yang bisa menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak bisa," kata Candace.

Kurikulum Kampus Dituntut Ikut Bergerak

Dr. Dea Prasetyawati dari BINUS University membahas hubungan antara pendidikan, industri, pemerintah, dan teknologi dalam menyiapkan tenaga pariwisata. Kolaborasi antarpihak dinilai perlu agar proses pembelajaran tidak tertinggal dari perubahan kebutuhan pekerjaan.

Persoalan lain datang dari cara masyarakat memandang profesi di sektor ini. Nigel Wong Chun Teim, President Malaysian Association of Tour and Travel Agents (MATTA), menyebut sebagian orang masih menganggap pekerjaan pariwisata sebagai pilihan sementara atau pekerjaan berketerampilan rendah.

Padahal, kata Nigel, industri menuntut pemahaman atas hubungan antarelemen dalam ekosistem perjalanan. Pekerja perlu mampu melihat kebutuhan wisatawan dari sudut pandang yang lebih luas, bukan sekadar menjalankan satu tugas.

Peluang Kerja Sama ASEAN-Korea

Nigel melihat teknologi dan platform dari perusahaan rintisan Korea berpotensi memperkuat sistem pembelajaran pariwisata di kawasan. "Jika platform dan perangkat lunak tersebut digabungkan dengan kerangka pendidikan yang kita miliki, ada peluang bagi kita untuk melompat lebih jauh dibandingkan metode pendidikan konvensional," katanya.

Dari sisi pelatihan berkelanjutan, Candace mendorong penyelenggara menyediakan kursus singkat setengah hari atau satu hari. Format itu memberi karyawan kesempatan mempelajari keterampilan baru tanpa harus meninggalkan tugas terlalu lama.

Than Htut, Secretary General Myanmar Tourism Federation, menekankan pentingnya keterkaitan lembaga pendidikan dan industri. Perusahaan perhotelan, restoran, operator tur, serta institusi pelatihan perlu menyusun program pembelajaran berdasarkan kebutuhan pekerjaan.

Than juga mengusulkan lebih banyak program magang dan pertukaran tenaga profesional antara ASEAN dan Korea. Pelatihan di tempat kerja, pendampingan, serta pendidikan profesional berkelanjutan dinilai jadi jalur untuk mengembangkan karier pekerja.

Soal Bertahan di Industri

Patthanasiri Salyasiri Ewtoksan dari Department of Tourism Thailand menyoroti kepastian finansial dan peningkatan keterampilan sebagai kunci mempertahankan pekerja di industri pariwisata. Tanpa keduanya, pekerja cenderung berpindah ke sektor lain setelah keterampilan mereka terasah.

Bagi traveler, arah kebijakan ini berdampak langsung pada pengalaman berwisata. Layanan pemesanan, informasi destinasi, hingga respons hotel dan maskapai akan semakin banyak bersandar pada sistem berbasis AI, sementara sentuhan manusia tetap dibutuhkan di titik-titik yang menuntut empati dan penilaian.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks