DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali memberikan apresiasi khusus bagi kreativitas generasi muda dalam rangkaian Hari Raya Nyepi Saka 1948. Gubernur Wayan Koster bersama Wagub Nyoman Giri Prasta menyerahkan piagam serta dana pembinaan kepada perwakilan STT dari sembilan kabupaten/kota di Jayasabha.
Pertemuan tersebut mengungkap besarnya pengorbanan pemuda banjar dalam menciptakan karya seni tahunan ini. Koster dan Giri Prasta terperangah mendengar laporan pengerjaan satu unit ogoh-ogoh yang menghabiskan waktu lima bulan dengan biaya produksi mencapai Rp 50 juta.
Angka fantastis tersebut murni hasil gotong royong dan iuran anggota STT, tanpa bergantung pada sponsor besar. Para pemuda rela terjaga berbulan-bulan demi mengejar detail artistik dan nilai filosofis yang sempurna untuk malam pengerupukan.
Bagi Gubernur Koster, biaya dan tenaga besar ini membuktikan ketangguhan jati diri masyarakat Bali. Ia memandang ogoh-ogoh telah bertransformasi menjadi simbol perlawanan terhadap gempuran modernisasi yang mengancam akar budaya.
"Nyepi memang sudah lewat, tetapi semangatnya jangan sampai luntur," tegas Koster di hadapan perwakilan STT. Ia menyebut tradisi ini sebagai wahana bagi generasi muda untuk menguatkan identitas sebagai pemilik bakat seni warisan leluhur.
Sebagai dukungan nyata, Pemprov Bali mengucurkan dana pembinaan masing-masing Rp 5 juta untuk 10 STT terfavorit. Stimulus ini bertujuan memicu semangat pemuda banjar agar terus berinovasi dalam industri kreatif berbasis budaya.
Pemilihan pemenang berlangsung selektif dengan memantau karya-karya terbaik dari seluruh pelosok Pulau Dewata. Berikut daftar STT yang meraih predikat terfavorit pilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali:
Suasana haru menyelimuti Jayasabha saat para pemuda menyalami pimpinan daerah mereka di penghujung acara. "Matur suksma Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur atas dukungannya kepada generasi muda Bali," ucap mereka serempak.
Langkah ini mempertegas komitmen pemerintah memposisikan anak muda sebagai garda terdepan penjaga Taksu Bali. Dukungan finansial dan moral dipandang krusial guna menjamin regenerasi seniman di tingkat banjar tetap berkelanjutan.