BALI — Berdasarkan data Bloomberg pukul 9.45 WIB, mata uang Garuda terpantau melemah 89 poin atau 0,52 persen ke posisi Rp17.503 per dolar AS. Level ini menjadi yang terlemah dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus menembus batas psikologis Rp17.500 yang selama ini dijaga ketat otoritas moneter. Posisi ini membuka perdagangan dari level Rp17.489 yang juga sudah melemah 75 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah hingga level ini berarti daya beli masyarakat terhadap barang-barang impor menurun signifikan. Produk elektronik, kosmetik, hingga bahan baku industri yang bergantung pada impor dipastikan akan naik harga. Selain itu, biaya pendidikan di luar negeri dan paket perjalanan umrah atau liburan ke luar negeri juga akan membengkak.
Bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, beban cicilan mereka akan semakin berat. Sementara itu, investor yang memegang saham di perusahaan dengan utang dolar besar perlu mewaspadai potensi penurunan laba bersih akibat selisih kurs.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah datang dari tiga sisi. Pertama, harapan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meredup, sehingga investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi terus membebani negara importir minyak seperti Indonesia. Ketiga, pasar menanti pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak akan memberikan kabar positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah. Investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini," ujar Lukman kepada media.
Lukman memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Artinya, level Rp17.500 masih menjadi resistance terdekat yang harus ditembus jika tekanan berlanjut.
Untuk jangka pendek, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada data penjualan ritel Indonesia yang dirilis siang ini. Data tersebut menjadi indikator kekuatan konsumsi domestik. Jika penjualan ritel tumbuh positif, sentimen terhadap rupiah bisa membaik. Sebaliknya, jika lesu, tekanan terhadap rupiah bisa semakin dalam.
Bagi masyarakat yang berencana bepergian ke luar negeri dalam waktu dekat, disarankan untuk membeli dolar AS secara bertahap (dollar cost averaging) untuk mengantisipasi fluktuasi lebih lanjut. Sementara bagi investor, momen pelemahan ini bisa dimanfaatkan untuk mencari saham-saham berorientasi ekspor yang diuntungkan oleh kurs, seperti sektor komoditas dan tekstil. Investasi mengandung risiko.
Pelemahan rupiah tidak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia kompak tertekan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan anjlok 1 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,50 persen. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,22 persen, yen Jepang melemah 0,22 persen, dan yuan China turun tipis 0,01 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mampu menguat 0,01 persen.