BALI — Pergerakan rupiah pagi ini memperpanjang tren tekanan terhadap mata uang Garuda di tengah penguatan dolar AS secara global. Data dari Bloomberg hingga pukul 09.38 WIB mencatat depresiasi sebesar 0,33 persen, membawa kurs ke posisi Rp 17.864 per dolar AS.
Menariknya, pelemahan rupiah ini tidak diikuti oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks acuan saham justru menguat ke 6.217 pada sesi awal perdagangan. Divergensi ini kerap menjadi sinyal bahwa investor asing masih masuk ke pasar saham meski ada tekanan di pasar valuta asing.
Bagi nasabah yang ingin menukar dolar AS, penting untuk mencermati selisih antara kurs beli dan jual di masing-masing bank. Berikut rincian kurs di BCA, Bank Mandiri, dan BNI per pukul 09.38 WIB:
BCA menawarkan dua kategori kurs. Untuk transaksi e-Banking (e-Rate), bank membeli dolar di Rp 17.878 dan menjual di Rp 17.898 per dolar AS. Sementara itu, untuk transaksi tunai di counter (TT Counter dan Bank Notes), spread melebar: beli di Rp 17.690 dan jual di Rp 17.940. Ada juga Special Rate untuk nasabah dengan nilai transaksi tertentu dengan kurs beli Rp 17.865 dan jual Rp 17.895.
Bank Mandiri memasang kurs TT Counter dengan spread lebih lebar. Bank membeli dolar di Rp 17.640 dan menjual di Rp 17.940 per dolar AS. Untuk transaksi Bank Notes, kurs beli sedikit lebih rendah di Rp 17.625 dengan harga jual Rp 17.925.
BNI tidak disebutkan secara rinci dalam data yang tersedia, namun pola kurs di ketiga bank umumnya memiliki spread yang mirip, dengan selisih jual-beli berkisar antara Rp 250 hingga Rp 300 per dolar AS untuk transaksi tunai.
Selisih antara kurs beli dan jual (spread) yang mencapai lebih dari Rp 250 per dolar AS di transaksi tunai berarti biaya transaksi yang cukup signifikan. Misalnya, jika Anda menukar Rp 10 juta menjadi dolar AS di kurs jual Rp 17.940, Anda hanya akan mendapatkan sekitar US$ 557. Jika Anda menjual kembali dolar tersebut di kurs beli Rp 17.640, nilai rupiah yang Anda terima hanya sekitar Rp 9,82 juta—artinya Anda kehilangan hampir Rp 180.000 hanya dari selisih kurs.
Sebaliknya, untuk transaksi digital melalui e-Banking, spread di BCA hanya Rp 20 per dolar AS, jauh lebih efisien. Nasabah disarankan memanfaatkan kanal digital untuk transaksi valas dengan nominal kecil hingga menengah.
BCA mengingatkan bahwa kurs e-Rate hanya berlaku untuk transaksi melalui e-Banking dan dapat berubah selama proses transaksi. Untuk transaksi dengan nilai nominal tertentu, nasabah perlu menghubungi cabang untuk mendapatkan kurs khusus. Selain itu, ketentuan threshold transaksi dan kewajiban penyampaian dokumen underlying mengikuti aturan Bank Indonesia (BI).
Bank Mandiri juga menetapkan bahwa kurs indikasi untuk transaksi di atas 25.000 dolar AS (ekivalen) bersifat khusus. Nasabah dengan kebutuhan valas besar disarankan menghubungi cabang terlebih dahulu untuk mendapatkan kurs yang berlaku saat transaksi.
Dengan volatilitas rupiah yang masih tinggi, memilih waktu dan kanal transaksi yang tepat bisa menghemat biaya secara signifikan. Pantau terus pergerakan kurs sebelum melakukan transaksi valas hari ini.