BALI — Mata uang Garuda ikut terseret dalam pelemahan regional bersama yen Jepang yang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan yang ambles paling dalam yakni 0,71 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,11 persen dan 0,01 persen.
Pelemahan tak hanya terjadi di Asia. Mata uang negara maju seperti euro Eropa, poundsterling Inggris, hingga franc Swiss kompak berada di zona merah. Dolar Australia dan dolar Kanada pun tak mampu bertahan.
Dua Sumber Tekanan: Perang Dagang AS-Iran dan Kebutuhan Dividen
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi dengan rentang pergerakan Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS hari ini. Dua faktor utama menjadi penentu: perkembangan negosiasi AS-Iran yang masih limbung dan rilis data ekonomi domestik.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6). Ia menambahkan, harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor musiman. Bank Indonesia mencatat peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen di tengah arus masuk valas yang terbatas. Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang belum mereda.
BI Siaga Penuh di Pasar, Intervensi Jadi Andalan
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bank sentral terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," kata Ramdan pada Jumat (29/5) lalu.
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen yang dimiliki BI, termasuk operasi pasar terbuka dan instrumen moneter lainnya. Langkah ini diambil untuk memastikan pergerakan rupiah tetap terkendali di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Investor dan pelaku bisnis kini menanti data inflasi dan neraca perdagangan yang akan dirilis besok. Hasilnya akan menjadi sinyal apakah tekanan terhadap rupiah bisa mereda atau justru berlanjut dalam waktu dekat.