BATUKARU — Penanaman pohon di lereng Gunung Batukaru bukan sekadar seremoni lingkungan. Kawasan ini diketahui menopang 20 sistem irigasi subak dan tujuh desa di sekitarnya, sehingga keberadaan vegetasi menjadi penentu keberlanjutan pertanian dan sumber air warga.
Jenis pohon yang ditanam dipilih berdasarkan kondisi ekologis kawasan sekaligus nilai budayanya. Sebanyak 30 bibit beringin, 50 mahoni, dan 20 cempaka ditanam di lahan seluas 1.000 meter persegi yang masuk area Pura Luhur Batukaru.
Hutan di kawasan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang memasok kebutuhan irigasi puluhan subak di bawahnya. Jika vegetasi rusak, debit air untuk sawah dan kebutuhan domestik warga tujuh desa akan terganggu.
"Reforestasi adalah menanam pohon dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan," tegas I Ketut Subandi, Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan Provinsi Bali.
Bali Tourism Board juga melihat keterkaitan langsung antara kelestarian hutan dan industri pariwisata. Air yang ditampung kawasan tangkapan seperti Batukaru menjadi kebutuhan dasar hotel, restoran, dan atraksi wisata di Pulau Dewata.
Kolaborasi ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, dan swasta dalam satu agenda. Desa adat Wangaya Gede dilibatkan sejak perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan.
"Industri pariwisata bergantung pada air yang ditampung kawasan tangkapan seperti Batukaru. Menjaga hutan berarti menjaga keberlangsungan usaha kita," kata Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Chairman Bali Tourism Board.
Model kerja sama semacam ini diharapkan bisa direplikasi di kawasan hutan lain di Bali.
Nuanu Social Fund mendukung penuh proses pemeliharaan selama 12 bulan ke depan. Cakupannya meliputi penyiraman, penggantian bibit yang mati, dan perlindungan area tanam dari gangguan.
Auditya Sari, Head of Nuanu Social Fund, menyatakan komitmennya untuk transparan dalam pelaporan hasil program.
"Kami akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah satu tahun, apapun hasilnya. Peran kami adalah mendukung agenda reforestasi yang dipimpin pemerintah, sekaligus menghormati pengetahuan masyarakat lokal," ujarnya.
Penanaman dijadwalkan berlangsung hingga 2 September. Hasil pemantauan kelangsungan hidup pohon akan diumumkan kepada publik pada September 2027.
Dengan keterlibatan tiga aktor utama tersebut, reforestasi Bali diharapkan berjalan sebagai gerakan bersama, bukan sekadar proyek tahunan pemerintah.