DENPASAR — Dalam epos Mahabharata, kematian di medan perang dianggap kehormatan tertinggi bagi seorang kesatria. Justru karena itu, Dhritarashtra tidak diberi "kemuliaan" tersebut. Ia harus menanggung konsekuensi perbuatannya dengan cara yang lebih menyiksa: hidup lebih lama dari semua yang ia perjuangkan.
Raja buta Hastinapura itu menjadi simbol pemimpin yang menutup mata terhadap ketidakadilan. Kekuasaannya dipakai untuk melindungi tindak kriminal anak-anaknya, terutama Duryodhana, demi ambisi takhta yang membara.
Kejahatan Kurawa tidak bertahan lama tanpa sokongan lima pilar utama. Kelimanya menjadi tembok yang membuat Pandawa kesulitan menegakkan kebenaran selama bertahun-tahun.
Satu per satu tameng itu rontok di medan Kurukshetra. Bhishma tumbang, Drona tewas, Karna gugur, dan Shakuni dibunuh. Namun sang raja buta tetap bernapas di istananya.
Dalam hukum karma, dibiarkan hidup bisa jadi siksaan yang lebih menyiksa daripada mati cepat. Ada tiga alasan filosofis yang menjelaskan mengapa Dhritarashtra tidak dibiarkan tewas di medan perang.
Bagi seorang kesatria, mati di medan perang adalah kehormatan. Jika Dhritarashtra tewas, ia langsung terbebas dari masalah duniawi. Takdir justru membiarkannya hidup agar merasakan siksaan batin: melihat istananya sepi dan mendengar tangisan para janda korban perang setiap hari.
Dosa terbesar Dhritarashtra adalah buta cinta kepada anak-anaknya. Ia nekat melakukan apa pun agar Duryodhana dan saudara-saudaranya bisa naik takhta. Karmanya tepat: ia dibiarkan hidup cukup lama hanya untuk menonton keseratus anaknya mati satu per satu mendahuluinya.
Takhta yang ia puja-puja akhirnya jatuh ke tangan Pandawa. Hastinapura yang ia pertahankan dengan segala cara berakhir di bawah kendali pihak yang ia singkirkan.
Jika mati seketika, jiwanya tidak sempat merenungi kesalahan. Di sisa umurnya yang sebatang kara, Dhritarashtra akhirnya sadar. Ia meninggalkan pakaian rajanya, pergi ke hutan bersama istrinya, Gandari, dan hidup sebagai pertapa untuk membersihkan dosa sebelum meninggal dengan tenang.
Kisah raja buta ini memberi pelajaran keras tentang kepemimpinan. Kejahatan sebenarnya lemah jika berdiri sendiri. Namun ia menjadi raksasa yang menakutkan ketika didukung pemimpin berkuasa yang memilih menutup mata saat ketidakadilan terjadi di depannya.
Di dunia nyata, pola serupa kerap muncul. Pembuat kebijakan yang melindungi kelompoknya sendiri sering tidak langsung hancur. Mereka dibiarkan hidup oleh sejarah untuk menanggung malu dan penyesalan, sekaligus menjadi peringatan bahwa membela keluarga atau golongan secara buta bayarannya mahal.