BALI — Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali erupsi pada Minggu (11/10/2026) pukul 17.47 WIT dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi 60 detik. Dalam sepekan terakhir, gunung berapi ini tercatat sudah meletus 52 kali. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status Gunung Ibu di Level II atau Waspada.
Sepanjang pengamatan kegempaan pada 11 Oktober 2026 pukul 00.00–23.59 WIT, MAGMA Indonesia mencatat 97 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10–28 milimeter dan lama gempa 30–141 detik. Visual letusan tidak teramati karena erupsi hanya terekam di seismograf.
Laporan aktivitas gunung api MAGMA Indonesia juga mendeteksi 1 kali gempa guguran dengan amplitudo 20 mm dan lama gempa 146 detik. Selain itu, tercatat 3 kali gempa hembusan dengan amplitudo 4–15 milimeter dan lama gempa 31–35 detik.
PVMBG menghimbau masyarakat di sekitar Gunung Ibu dan pengunjung atau wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Perluasan sektoral juga diberlakukan hingga berjarak 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara.
Radius larangan ini bersifat mutlak, terutama bagi wisatawan yang hendak mendaki atau mendekati area kawah untuk berfoto. Otoritas vulkanologi menegaskan aktivitas di zona tersebut berisiko tinggi mengingat frekuensi erupsi yang masih intens.
Sepanjang tahun 2026, MAGMA Indonesia telah merekam 5.056 letusan atau erupsi gunung api di seluruh Indonesia. Gunung Semeru di Jawa Timur menjadi yang paling sering erupsi dengan 1.958 kali letusan.
Gunung Ibu menempati posisi kedua dengan 1.695 kali erupsi. Angka ini menegaskan bahwa Gunung Ibu termasuk gunung api paling aktif di Indonesia pada periode tersebut.
Bagi traveler yang sedang merencanakan perjalanan ke Halmahera Barat atau kawasan Maluku Utara, status Waspada Gunung Ibu perlu masuk dalam pertimbangan. Rute darat yang melintasi kaki gunung sebaiknya dikonfirmasi ulang ke pos pemantauan setempat.
Wisatawan yang hendak menuju Ternate atau kawasan sekitar sebaiknya memantau pembaruan resmi PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia. Informasi terkini soal radius aman dan status aktivitas dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata atau BPBD setempat sebelum berangkat.
Masker dan pelindung mata tetap disarankan bagi siapa pun yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik. Warga lokal maupun pendatang diminta mengikuti arahan petugas pos pemantauan gunung api.