DENPASAR — Kisah Ni Luh Sri Wahyuningsih menjadi contoh nyata bagaimana peluang usaha bisa dimulai dari dapur rumah. Warga Kelurahan Kesiman Petilan, Denpasar Timur, ini sukses mengelola usaha keripik ayam yang kini mampu memproduksi hingga ratusan kilogram per hari.
Usaha yang dirintis dari skala rumahan ini membuktikan bahwa ibu rumah tangga bisa berkontribusi secara ekonomi tanpa harus meninggalkan peran utama di keluarga. Sri, begitu ia akrab disapa, memulai usahanya dengan peralatan seadanya dan resep racikan sendiri.
Modal Kecil, Omzet Terus Meningkat
Awalnya, Sri hanya memproduksi keripik ayam dalam jumlah kecil untuk dijual ke tetangga dan kerabat. Namun, respons positif dari konsumen membuatnya percaya diri untuk meningkatkan kapasitas produksi.
“Saya mulai dari dapur rumah. Alhamdulillah, peminat terus bertambah sehingga produksi saya naikkan secara bertahap,” ujar Sri. Kini, dalam sehari ia bisa menghasilkan lebih dari 100 kilogram keripik ayam dengan berbagai varian rasa.
Strategi Pemasaran dari Mulut ke Mulut hingga Online
Tanpa modal besar untuk promosi, Sri mengandalkan kualitas produk dan kepuasan pelanggan. Pemasaran dari mulut ke mulut menjadi andalan utamanya di awal. Kini, ia juga memanfaatkan media sosial dan platform pesan instan untuk menjangkau pembeli yang lebih luas.
Keripik ayam produksinya dikenal memiliki tekstur renyah dan bumbu yang meresap. Bahan baku ayam segar dipilih langsung dari pasar tradisional setiap pagi untuk menjaga kualitas. Harga yang ditawarkan pun bersaing, mulai dari Rp 15.000 per bungkus kecil.
Dampak bagi Keluarga dan Lingkungan Sekitar
Keberhasilan Sri tidak hanya berdampak pada ekonomi keluarganya. Usaha rumahan ini juga membuka lapangan kerja bagi tetangga sekitar yang membantu proses produksi dan pengemasan. “Saya bersyukur bisa memberdayakan ibu-ibu di lingkungan sini. Mereka bisa bekerja sambil tetap mengurus rumah tangga,” tambahnya.
Penghasilan dari usaha keripik ayam ini kini menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Sri mengaku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan anak-anaknya tanpa harus bergantung sepenuhnya pada suami.
Kendala Produksi dan Harapan ke Depan
Meski produksi terus meningkat, Sri masih menghadapi kendala pada keterbatasan alat produksi. Ia masih menggunakan peralatan rumah tangga biasa yang kapasitasnya terbatas. “Ke depan saya ingin punya mesin penggorengan vakum agar hasil lebih maksimal dan kapasitas produksi bisa naik dua kali lipat,” harapnya.
Kisah Ni Luh Sri Wahyuningsih menjadi inspirasi bagi ibu rumah tangga lain di Denpasar bahwa memulai usaha dari dapur sendiri bukanlah hal mustahil. Dengan ketekunan dan inovasi, keterbatasan modal dan peralatan bisa diatasi secara bertahap.