DENPASAR — Darurat sampah di Bali, khususnya di Denpasar dan Badung, memasuki babak penanganan baru. Setelah kapasitas TPA Suwung kritis dan tumpukan sampah menggunung di berbagai titik, pemerintah memutuskan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di lahan seluas 6 hektare milik Pelindo di Pasanggaran.
Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan proyek ini sudah masuk tahap persiapan. Proses pengurugan lahan telah dimulai, sementara proses perizinan dan pendanaan tengah diproses oleh Danantara.
Kapasitas 1.200 Ton per Hari dan Target Rampung
PSEL Denpasar Raya ditargetkan beroperasi penuh pada akhir 2027. Fasilitas ini diproyeksikan mampu mengolah 1.200 ton sampah setiap harinya—angka yang setara dengan sebagian besar timbulan sampah harian di Denpasar dan Badung.
“Nantinya, fasilitas PSEL ini diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.200 ton sampah per hari. Kapasitas besar tersebut diharapkan mampu mengurangi penumpukan sampah sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di Bali,” kata Koster di Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (23/5/2026).
Pemerintah menargetkan pada 2028, permasalahan sampah di dua daerah tersebut sudah bisa ditangani secara lebih optimal.
Tak Hanya Sampah Baru, Tumpukan di TPA Suwung Juga Jadi Target
Salah satu tantangan terbesar adalah tumpukan sampah lama di TPA Suwung yang telah mengendap bertahun-tahun. Gubernur menegaskan bahwa proyek PSEL tidak hanya akan menangani sampah harian, tetapi juga sampah lama yang masih menumpuk di kawasan tersebut.
Pemerintah berharap, setelah sampah lama terolah, kawasan TPA Suwung bisa direvitalisasi menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang publik.
TNI AD Tawarkan Pirolisis Tanpa Investasi Negara
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak, saat meninjau kick-off pematangan lahan, menawarkan metode alternatif pengolahan sampah. TNI AD siap mendukung program pemerintah melalui metode pirolisis yang dinilai efektif dan ramah lingkungan.
“TNI AD siap mendukung berbagai program pemerintah dalam penanganan sampah melalui kegiatan karya bakti, edukasi lingkungan, hingga dukungan terhadap program pengelolaan sampah terpadu di daerah,” ujar Maruli.
Menurutnya, keunggulan pengolahan sampah oleh TNI AD adalah tanpa investasi pemerintah, tanpa subsidi, dan ramah lingkungan. “Yang perlu didukung oleh pemerintah yakni prosedur administrasi (perizinan), jaminan penjualan solar hasil pengolahan sebagai sumber energi terbarukan,” ungkapnya.
Bali Jadi Pilot Project Pirolisis Nasional
Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Nani Hendiarti menyebutkan bahwa Perpres 109/2025 telah memayungi kebijakan pengolahan sampah yang menghasilkan energi—baik menjadi listrik, BBM terbarukan, maupun bio energi.
Bali telah ditetapkan sebagai lokasi pilot project pirolisis bersama Jakarta, Surabaya, Bekasi, Bandung, Bogor, dan Semarang. Proyek ini akan dilaksanakan oleh TNI AD dengan dukungan tim terpadu lintas kementerian dan lembaga.
“Penggunaan teknologi PSEL dan PSE BBM terbarukan dapat mengurangi kedaruratan sampah di Denpasar dan Badung, baik timbulan sampah harian maupun TPA Suwung,” terang Nani.
Sambil Menunggu PSEL, Gerakan Bersih-Bersih Digenjot
Koster menekankan bahwa kebersihan Bali adalah fondasi utama menjaga pariwisata. Sambil menunggu PSEL beroperasi, pemerintah daerah terus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis sumber melalui TPS3R, TPST, dan pemilahan sampah rumah tangga.
“Kebersihan Bali adalah fondasi utama menjaga Bali tetap kondusif sebagai destinasi wisata dunia. Sambil menunggu penyelesaian PSEL, gerakan bersih-bersih terus kita genjot,” tegasnya.