BANGLI — Dermaga Kedisan yang selama ini menjadi salah satu titik favorit untuk menikmati panorama Danau Batur dan Gunung Abang, kembali disorot. Bukan karena keindahan alamnya, melainkan ulah sejumlah pedagang asongan yang disebut-sebut merusak pengalaman wisatawan.
Video yang diunggah ulang oleh beberapa akun media sosial memperlihatkan seorang pengunjung yang mengeluhkan cara pedagang menawarkan dagangan. "Mereka datang bertubi-tubi, tidak memberi ruang untuk kami sekadar duduk dan menikmati pemandangan," ujar perekam video dalam narasi yang menyertai unggahan tersebut.
Dermaga Kedisan Bukan Sekadar Dermaga
Dermaga Kedisan bukan tempat naik-turun kapal biasa. Dari titik ini, wisatawan bisa menyaksikan langsung aktivitas nelayan tradisional dan jajaran perbukitan hijau di seberang danau. Sayangnya, potensi wisata ini mulai terusik oleh praktik pedagang yang terlalu agresif.
Keluhan serupa sebenarnya bukan pertama kali muncul. Beberapa unggahan di forum perjalanan dan grup media sosial kerap membahas pengalaman serupa. Namun, video terbaru ini kembali memantik diskusi tentang perlunya penataan di kawasan tersebut.
Dampak ke Citra Wisata Kintamani
Kintamani merupakan salah satu destinasi unggulan di Bali. Jika masalah pedagang asongan tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin citra kawasan ini sebagai tujuan wisata keluarga bisa tercoreng. Wisatawan yang datang untuk mencari ketenangan justru mendapat tekanan dari para pedagang.
Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Pariwisata dan instansi terkait sebelumnya telah berupaya melakukan penertiban. Namun, keluhan yang terus muncul mengindikasikan bahwa pengawasan di lapangan masih longgar atau aturan yang ada belum berjalan efektif.
Pedagang Asongan: Antara Cari Nafkah dan Gangguan
Di sisi lain, para pedagang asongan di Dermaga Kedisan juga tengah berjuang untuk mendapatkan penghasilan di tengah persaingan yang ketat. Mereka menjajakan aneka barang, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga aksesoris khas Bali. Namun, cara penawaran yang tidak dibarengi dengan etika berdagang menjadi masalah utama.
Sejumlah warganet dalam kolom komentar menyarankan agar pedagang diberikan lokasi khusus atau zona penjualan yang tidak mengganggu area pandang utama pengunjung. Ada pula yang mengusulkan agar pengelola dermaga menerapkan sistem kupon atau izin berjualan yang ketat.
Apa Langkah Selanjutnya?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola Dermaga Kedisan maupun Dinas Pariwisata Bangli mengenai langkah konkret menyusul viralnya video tersebut. Publik berharap agar keluhan ini tidak hanya menjadi perbincangan sesaat, melainkan mendorong perbaikan tata kelola wisata di kawasan tersebut.
Dermaga Kedisan memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata yang nyaman bagi semua kalangan. Penataan pedagang asongan bisa menjadi langkah awal untuk mewujudkannya.