KARANGASEM — Suasana Taman Kota Jagatkarana yang biasa sepi pada akhir pekan berubah menjadi panggung semarak. Ratusan warga dari berbagai desa di Karangasem duduk lesehan, menikmati alunan musik dan tarian tradisional yang membawakan pesan kebersamaan. Pagelaran "Mentari Timur Menari" bukan sekadar hiburan, melainkan panggilan untuk menghidupkan kembali tradisi gotong royong yang mulai tergerus.
Gus Ode: Gotong Royong Adalah Napas Gumi Lahar
Gus Ode, tokoh muda yang menggagas acara ini, tampil di atas panggung dan menyampaikan pidato pendek yang menggetarkan. Ia menekankan bahwa semangat gotong royong harus menjadi fondasi pembangunan di Karangasem, terutama setelah masa-masa sulit yang dialami wilayah yang dikenal sebagai Gumi Lahar ini. "Acara ini adalah simbol bahwa kita bisa bersama-sama membangun kembali Karangasem," ujarnya.
Panggung KAP: Lebih dari Sekadar Hiburan Akhir Pekan
Acara Karangasem Akhir Pekan (KAP) yang rutin digelar di Taman Kota Jagatkarana memang sudah menjadi agenda tetap. Namun, edisi kali ini terasa berbeda. Dengan tajuk "Mentari Timur Menari", panitia sengaja mengemas pesan sosial dan budaya dalam balutan pertunjukan seni yang memukau. Penonton diajak bernyanyi dan berjoget bersama, menciptakan kehangatan di malam yang syahdu.
Apa Dampak Acara Ini bagi Warga Karangasem?
Warga yang hadir tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapatkan pengingat akan pentingnya solidaritas. Banyak dari mereka yang mengaku terinspirasi untuk kembali aktif dalam kegiatan gotong royong di kampung masing-masing. "Ini mengingatkan saya pada masa kecil, saat tetangga saling bantu tanpa pamrih," kata salah satu pengunjung, Made Suardana.
Kapan Acara Serupa Akan Kembali Digelar?
Gus Ode mengisyaratkan bahwa "Mentari Timur Menari" bukanlah acara satu kali. Rencananya, pagelaran serupa akan digelar secara berkala setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda. Hal ini diharapkan dapat menjadi magnet baru bagi pariwisata budaya di Karangasem dan memperkuat ikatan sosial warganya.
Mengapa Gotong Royong Kini Menjadi Krusial di Gumi Lahar?
Karangasem, yang kerap diterpa bencana alam dan tantangan ekonomi, membutuhkan ketahanan sosial yang kuat. Acara seperti ini menjadi katalis untuk membangkitkan kembali semangat kebersamaan yang sempat meredup. Lewat seni dan budaya, pesan gotong royong disampaikan dengan cara yang lebih ringan dan mudah diterima semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua.