KARANGASEM — Kabupaten Karangasem masuk dalam kategori wilayah dengan risiko bencana cukup tinggi di Bali. Ancaman datang dari berbagai sisi, salah satunya abrasi pantai yang terus mengikis daratan pesisir.
Data terbaru menunjukkan garis pantai di sejumlah titik mengalami kemunduran rata-rata 1 sentimeter per tahun. Meski terlihat kecil, akumulasi dalam satu dekade bisa mencapai 10 sentimeter dan mengancam permukiman serta lahan warga.
Abrasi Pantai: Ancaman yang Tak Bisa Diabaikan
Proses abrasi ini berlangsung terus-menerus. Jika tidak ada intervensi, garis pantai akan terus mundur dan berdampak langsung pada kehidupan nelayan serta pemilik tambak di pesisir Karangasem.
Belum ada data pasti berapa panjang garis pantai yang sudah terdampak. Namun, beberapa desa di pesisir mulai merasakan dampaknya, terutama saat musim gelombang tinggi.
Anggaran Mitigasi: Kebutuhan vs Realitas
Di tingkat desa, anggaran untuk mitigasi bencana masih sangat minim. Padahal, berdasarkan regulasi, sebagian dana desa seharusnya dialokasikan untuk penanganan risiko bencana.
Kepala desa di beberapa wilayah mengaku kesulitan karena keterbatasan dana. Prioritas anggaran kerap terserap untuk kebutuhan infrastruktur dasar dan operasional pemerintahan desa.
Ancaman Bencana Lain di Karangasem
Selain abrasi, Karangasem juga menghadapi ancaman bencana lain seperti banjir bandang dan tanah longsor. Topografi wilayah yang berbukit dan berlereng curam menjadi faktor pemicu.
Bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang pernah terjadi beberapa tahun lalu dan merusak pemukiman serta lahan pertanian. Kondisi ini membuat mitigasi menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar rencana jangka panjang.
Berapa Anggaran yang Dibutuhkan untuk Mitigasi?
Pemerintah kabupaten belum merilis angka pasti kebutuhan anggaran mitigasi. Namun, dari pengalaman penanganan bencana sebelumnya, biaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana selalu lebih besar dibanding biaya pencegahan.
Pihak Pemkab Karangasem mendorong desa-desa untuk mengalokasikan minimal 10 persen dari dana desa untuk mitigasi. Namun, realisasi di lapangan masih jauh dari target karena berbagai kendala administratif dan prioritas pembangunan lain.
Apa Dampak Abrasi bagi Warga Pesisir?
Warga yang tinggal di bibir pantai mulai kehilangan lahan. Beberapa rumah permanen yang dibangun puluhan tahun lalu kini jaraknya semakin dekat dengan garis laut.
Nelayan juga kesulitan mendapatkan lokasi yang aman untuk mendaratkan perahu. Abrasi mengubah kontur pantai dan membuat dermaga darurat yang dibangun swadaya warga rusak.
Kapan Langkah Konkret Mitigasi Mulai Dilaksanakan?
Belum ada jadwal pasti kapan program mitigasi besar-besaran akan dimulai. Pemerintah desa masih menunggu petunjuk teknis dari kabupaten dan provinsi.
Sementara itu, warga diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan setiap perubahan signifikan di garis pantai kepada perangkat desa. Langkah swadaya seperti penanaman mangrove sudah mulai dilakukan di beberapa titik, meski skalanya masih terbatas.