BALI — Lucid Motors menjalin kemitraan dengan platform mobilitas Eropa, Bolt, untuk mengembangkan robotaxi berbasis arsitektur EV mid-size yang lebih ringkas dan murah. Bolt menargetkan setidaknya 25.000 kendaraan otonom penuh, meski belum ada pesanan maupun transaksi yang terjadi. Kemitraan ini menjadi langkah strategis Lucid di tengah restrukturisasi besar-besaran di bawah CEO baru, Silvio Napoli.
Lucid Motors resmi menggandeng platform mobilitas asal Eropa, Bolt, dalam kemitraan yang berpotensi membawa robotaxi buatan perusahaan California tersebut ke jalanan Benua Biru. Kedua perusahaan mengumumkan kesepakatan itu pada Kamis, dengan Bolt menargetkan setidaknya 25.000 kendaraan otonom penuh yang dibangun di atas arsitektur EV mid-size Lucid yang akan datang.
Arsitektur tersebut dirancang lebih kecil dan lebih murah dibanding lini produk Lucid saat ini. Meski begitu, belum ada uang yang berpindah tangan dan Bolt belum menempatkan pesanan kendaraan. Tidak ada pula timeline publik untuk penerapan robotaxi ini.
Detail Kemitraan Lucid dan Bolt
Bolt berencana memiliki dan mengoperasikan sendiri armada robotaxi tersebut. Kedua perusahaan akan bekerja sama sejak tahap pengembangan produk untuk menyiapkan platform kendaraan yang siap dengan sistem mengemudi otonom (ADS).
Kendaraan ini akan menggunakan arsitektur komputasi dan sensor otonom Nvidia bernama Hyperion. Namun, Lucid dan Bolt tidak menyebutkan perusahaan mana yang akan menyediakan perangkat lunak mengemudi otonom. Lucid menolak memberikan informasi tambahan di luar siaran pers resmi.
Kemitraan ini disebut Bolt sebagai "langkah besar menuju" ambisinya menghadirkan 100.000 kendaraan otonom di platformnya pada 2035. Target 25.000 unit robotaxi menjadi tonggak awal dari rencana jangka panjang tersebut.
Restrukturisasi di Tubuh Lucid Motors
Pengumuman kemitraan ini menyusul restrukturisasi besar di Lucid Motors di bawah CEO baru, Silvio Napoli. Napoli baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap hampir 20% dari total tenaga kerja perusahaan.
Selain itu, peluncuran kendaraan pertama yang dibangun di atas platform mid-size juga mundur hampir satu tahun menjadi paruh kedua 2027. Penundaan ini memberi Lucid waktu tambahan untuk mematangkan arsitektur yang akan dipakai robotaxi Bolt.
Lucid sendiri belum pernah menerapkan versi robotaxi komersial dari dua kendaraan yang ada saat ini. Sepanjang tahun lalu, perusahaan bekerja sama dengan Uber dan firma kendaraan otonom Nuro untuk meluncurkan versi robotaxi dari SUV Gravity. Target peluncurannya adalah akhir 2026.
Pandangan CEO soal Bisnis Robotaxi
Napoli menilai bisnis sebagai penyedia robotaxi akan menghasilkan margin yang jauh melampaui model ritel tradisional. Keyakinan ini menjadi dasar strategi Lucid untuk memperluas lini bisnisnya ke sektor mobilitas otonom.
"Jangkauan dan keahlian operasional Bolt menjadikannya mitra ideal untuk menskalakan mobilitas otonom di seluruh Eropa," ujar Napoli dalam pernyataannya.
Sementara itu, Markus Villig, pendiri sekaligus CEO Bolt, menekankan pentingnya integrasi sistem dalam proyek ini. Menurutnya, mengemudi otonom di Eropa menuntut data, perangkat lunak, kendaraan, dan operasi yang bekerja sebagai satu sistem yang dibangun untuk jalan dan regulasi Eropa.
"Lucid menghadirkan platform kelas dunia, dan bersama-sama kami akan merancang kendaraan dan perangkat lunak berdasarkan data kami serta pengalaman operasional lebih dari satu dekade di lebih dari 850 kota," kata Villig.
Posisi Lucid di Pasar Robotaxi Global
Langkah Lucid menggandeng Bolt menempatkannya bersaing dengan sejumlah pemain robotaxi yang sudah lebih dulu beroperasi, seperti Waymo di Amerika Serikat dan berbagai inisiatif otonom di China. Namun, fokus pada pasar Eropa lewat Bolt memberi Lucid jalur distribusi yang sudah mapan di lebih dari 850 kota.
Bagi pengguna di Indonesia, kemitraan ini belum berdampak langsung karena Bolt dan Lucid belum mengumumkan rencana ekspansi ke Asia Tenggara. Namun, perkembangan robotaxi di Eropa kerap menjadi acuan regulasi dan adopsi kendaraan otonom di kawasan lain, termasuk Indonesia yang mulai menggodok aturan kendaraan otonom.
Kemitraan Lucid dan Bolt masih berada di tahap awal. Tanpa pesanan kendaraan dan timeline pasti, realisasi 25.000 robotaxi bergantung pada kesiapan platform mid-size Lucid yang baru akan meluncur pada paruh kedua 2027.