BALI — Migrasi paksa dari Fitbit app ke Google Health yang berlangsung sejak pekan lalu rupanya menuai badai kritik. Dari jajak pendapat yang digelar Android Authority terhadap lebih dari 1.500 responden, hanya 23 persen yang mengaku puas dengan aplikasi baru ini secara keseluruhan — baik dari segi tampilan maupun kinerja. Angka ini menunjukkan kegagalan pendekatan Google dalam merombak ekosistem kesehatan digitalnya.
Desain Menawan, Fungsionalitas Ambruk
Hasil survei mengungkap temuan menarik: 51 persen responden menilai Google Health terlihat lebih baik secara visual, namun enggan menggunakannya. Sebaliknya, hanya 5 persen yang menyukai cara kerja aplikasi tapi tidak suka tampilannya. Sebanyak 13 persen responden bersikap acuh tak acuh, sementara 9 persen lainnya belum mendapatkan akses ke aplikasi baru ini.
Pola ini mengindikasikan bahwa Google lebih mementingkan estetika ketimbang kegunaan. Padahal, untuk aplikasi kesehatan yang dipakai setiap hari, fungsionalitas adalah segalanya.
Data Penting Sulit Ditemukan, AI Malah Jadi Pengganggu
Keluhan terbesar pengguna adalah sains data yang justru semakin rumit. Seorang pengguna dengan akun stuartgiles mengeluhkan butuh waktu lebih lama untuk menemukan metrik paling dasar di dalam aplikasi. "Saya masih berusaha mencari cara melihat jumlah langkah saya kemarin. Aplikasi ini benar-benar buruk," tulisnya.
Pengguna lain, omrose.farmer, bahkan mengaku mulai melirik Apple Watch setelah bertahun-tahun setia menggunakan Fitbit. "Saya benci semua hal tentang aplikasi baru ini! Tidak ada yang intuitif, dan saya tidak bisa dengan mudah meninjau tren kesehatan saya," tulisnya dalam kolom komentar.
Masalah lain yang paling disorot adalah kehadiran AI coach yang terlalu mendominasi. craigalanfowler, yang merupakan peserta uji coba publik, menyayangkan masukan yang ia berikan tidak diindahkan. "Saya menggunakan AI di banyak aspek kehidupan, tapi untuk kesehatan harian saya hanya ingin melihat data dan grafik. Teks AI yang bertele-tele itu umumnya tidak membantu dan hanya membuat aplikasi sulit digunakan," ujarnya.
Usability Jadi Korban Ambisi AI Google
Banyak pengguna setuju bahwa AI coach akan lebih berguna jika bisa dipanggil sesuai kebutuhan, bukan dipajang di muka pengguna sepanjang waktu. "Jika sesekali saya MEMILIH untuk masuk ke sesi coaching AI yang detail, di mana saya bisa menambahkan banyak data dan konteks, maka saya bisa melihat nilainya. Tapi tidak dengan cara 'di muka' seperti sekarang," tambah craigalanfowler.
Pengguna lain menambahkan bahwa AI terlalu banyak berkomentar tentang setiap langkah kaki, tidur, atau olahraga ringan yang dilakukan. Hal ini membuat aplikasi terasa seperti teman yang terlalu bawel, bukan alat yang membantu.
Pelajaran untuk Google: Jangan Rusak yang Sudah Berfungsi
Kegagalan Google Health ini menjadi pengingat bahwa perubahan radikal tidak selalu baik, terutama jika mengorbankan pengalaman pengguna yang sudah mapan. Fitbit selama bertahun-tahun dikenal dengan antarmuka yang sederhana dan informatif. Kini, data yang dulu mudah diakses malah tersembunyi di balik desain baru yang membingungkan.
Bagi pengguna yang masih terjebak dengan Google Health dan tidak bisa kembali ke aplikasi Fitbit lama, satu-satunya harapan adalah Google mau mendengarkan masukan dan segera merilis pembaruan yang mengembalikan fungsionalitas dasar. Jika tidak, bukan tidak mungkin pangsa pasar wearable Google akan terus tergerus oleh kompetitor seperti Apple.