DENPASAR — Dua penghargaan bergengsi dari Kemendagri itu disebut menjadi cambuk semangat bagi seluruh jajaran Pemerintah Kota Denpasar. Prestasi ini diraih setelah tim verifikasi pusat menilai konsistensi program, akurasi data penerima manfaat, serta penurunan angka stunting yang signifikan dalam dua tahun terakhir.
Program Apa yang Membuat Denpasar Juara?
Pemkot Denpasar mengandalkan pendekatan kolaboratif antara dinas sosial, puskesmas, dan kelurahan. Setiap keluarga penerima manfaat dipantau secara berkala melalui aplikasi data tunggal yang terintegrasi dengan Kartu Identitas Anak (KIA) dan Kartu Keluarga Sejahtera.
Intervensi gizi diberikan langsung ke posyandu di 43 desa/kelurahan. Balita yang terindikasi stunting mendapat tambahan makanan bergizi selama 90 hari berturut-turut, bukan sekadar bantuan sembilan bahan pokok biasa.
Siapa Saja yang Terdampak Langsung?
Data Dinas Sosial Denpasar mencatat sekitar 12.000 keluarga masuk kategori penerima bantuan pangan non-tunai dan program padat karya. Dari jumlah itu, 1.800 balita di antaranya mendapat intervensi stunting intensif pada 2024.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar menyebutkan bahwa angka stunting di kota ini turun dari 8,7 persen pada 2022 menjadi 5,2 persen pada akhir 2024. Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional yang masih di kisaran 21 persen.
Mengapa Penghargaan Ini Penting bagi Warga?
Penghargaan dari Kemendagri bukan sekadar piala. Bagi warga Denpasar, ini berarti alokasi anggaran untuk program sosial tidak akan dipotong atau dialihkan ke pos lain. Pemkot telah menganggarkan Rp 48 miliar untuk penanggulangan kemiskinan dan stunting di APBD 2025.
Seorang kader posyandu di Kelurahan Sesetan mengatakan, pendampingan rutin membuat ibu-ibu lebih sadar akan asupan gizi anak. "Dulu banyak balita kurus, sekarang sudah mulai berisi. Posyandu ramai setiap hari Kamis," ujarnya.
Bagaimana Tindak Lanjut Setelah Penghargaan?
Pemkot Denpasar berencana memperluas jangkauan program ke daerah pinggiran seperti Desa Pemogan dan Padangsambian. Fokus berikutnya adalah memperbaiki data penerima bantuan agar tepat sasaran, termasuk menjaring warga miskin baru yang terdampak PHK sektor pariwisata.
Wakil Wali Kota Denpasar dalam sambutannya menegaskan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi, bukan tujuan akhir. "Kami tidak ingin angka stunting naik lagi. Target kami nol kasus baru pada 2026," katanya.
Apa Perbedaan Denpasar dengan Daerah Lain?
Tidak seperti kota lain yang mengandalkan bantuan tunai semata, Denpasar menggabungkan bantuan pangan dengan edukasi pengasuhan anak. Program "Sekolah Orang Tua Hebat" digelar di 43 kelurahan setiap bulan, mengajarkan pola asuh, pemberian MPASI, dan deteksi dini gangguan tumbuh kembang.
Kepala Bappeda Denpasar menambahkan, data kemiskinan diperbarui setiap tiga bulan melalui musrenbang kelurahan. "Kami tidak pakai data BPS dua tahun lalu. Semua real-time," ujarnya.
Kapan Program Ini Mulai Berdampak ke Warga?
Penurunan angka stunting sudah terlihat sejak kuartal pertama 2024, setelah program intervensi gizi berjalan enam bulan. Pemkot menargetkan seluruh balita di Denpasar bebas stunting pada akhir 2026, lebih cepat dari target nasional 2030.
Bagi warga yang ingin mendaftar sebagai penerima bantuan, cukup melapor ke kelurahan masing-masing dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga. Verifikasi dilakukan dalam tujuh hari kerja.