BADUNG — Sanggar Seni Murti Kanti Swara Banjar Tegeh, Kerobokan, siap mengirimkan wakilnya di ajang Duta PKB Badung 2026 dengan menyajikan sendratari Janger tradisi remaja berjudul “Bima Swarga”. Lakon yang diangkat berasal dari epos Mahabharata, mengisahkan perjalanan Bima ke alam akhirat demi menyelamatkan arwah ibunya, Dewi Kunti.
Kepala Sanggar Seni Murti Kanti Swara, I Wayan Sudarma, mengatakan bahwa pemilihan cerita “Bima Swarga” bukan tanpa alasan. Lakon ini sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi generasi muda masa kini.
Pesan Moral di Balik Lakon Bima Swarga
“Kami sengaja memilih Bima Swarga karena ceritanya sangat kuat dalam menyampaikan pesan bakti seorang anak kepada orang tua. Di tengah arus modernisasi, pesan seperti ini penting untuk terus ditanamkan pada remaja,” ujar Wayan Sudarma saat ditemui di Banjar Tegeh, Selasa (11/2).
Sendratari Janger yang akan ditampilkan mengombinasikan gerak tari tradisional Bali dengan narasi pewayangan. Seluruh penari adalah remaja asli Banjar Tegeh yang telah berlatih intensif selama dua bulan terakhir.
Mengapa Cerita Bima Swarga Relevan untuk Remaja?
Dalam pementasan nanti, alur cerita berfokus pada pengorbanan Bima yang rela turun ke neraka demi membebaskan roh ibunya. Konflik batin antara keyakinan dan kewajiban sebagai seorang putra menjadi inti drama yang ingin ditonjolkan.
“Kami ingin penonton, khususnya anak-anak muda, merenungkan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti meski mereka telah tiada. Ini pengingat bahwa keseimbangan antara dharma dan bhakti adalah kunci hidup,” tambah Wayan.
Persiapan dan Target di Ajang Duta PKB 2026
Sanggar Seni Murti Kanti Swara telah menyiapkan 12 orang penari remaja, ditambah 4 orang pemusik gamelan. Latihan digelar setiap sore di wantilan banjar setempat. Wayan menargetkan penampilan mereka bisa masuk tiga besar seleksi Duta PKB Badung 2026.
Duta PKB Badung merupakan ajang bergengsi yang digelar setiap tahun untuk menjaring duta seni dan budaya dari seluruh desa di Kabupaten Badung. Para peserta tidak hanya dinilai dari kemampuan menari, tetapi juga penguasaan materi adat dan budaya Bali.
Bagaimana Lakon Bima Swarga Diceritakan Lewat Janger?
Janger tradisi remaja yang dibawakan berbeda dengan Janger pada umumnya. Formatnya lebih dinamis, dengan dialog antarpenari yang menggunakan bahasa Bali halus. Musik pengiring menggunakan gamelan Gong Kebyar yang rancak.
“Kami memadukan unsur teater dan tari agar cerita Bima Swarga lebih mudah dipahami penonton muda. Tidak hanya sekadar menari, mereka juga berakting sesuai karakter dalam lakon,” jelas Wayan.
Pementasan perdana akan digelar di Panggung Terbuka Taman Budaya Bali dalam waktu dekat, bersamaan dengan jadwal seleksi tahap awal Duta PKB Badung 2026.