DENPASAR — Ribuan umat Hindu dari lintas kabupaten di Bali memadati areal Pura Dang Kahyangan Sakenan, Serangan, sejak Sabtu pagi untuk mengikuti puncak Bhakti Pujawali yang bertepatan dengan rerahinan Hari Suci Kuningan. Mereka tangkil melaksanakan persembahyangan bersama dalam suasana sakral dan khidmat.
Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir didampingi Wakil Walikota I Kadek Agus Arya Wibawa, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar I Made Oka Cahyadi Wiguna, dan Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya. Turut hadir pula Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara serta para pimpinan perangkat daerah dan tokoh masyarakat setempat.
Rangkaian Upacara: Dari Mareresik Hingga Pementasan Seni Sakral
Berdasarkan Dudonan Piodalan yang diterbitkan Puri Agung Kesiman selaku Pengempon Pura Sakenan, rangkaian pujawali telah dimulai sejak Kamis (25/6) dengan aksi gotong royong mareresik, pemasangan penjor, dan ngiyas pelinggih. Kegiatan ini melibatkan pemangku, krama adat, hingga siswa dan mahasiswa.
Sehari menjelang puncak, Jumat (26/6), digelar prosesi Ngelungsur Ida Bhatara menuju Pura Pesamuhan Agung. Pada puncak upacara, Sabtu (27/6), persembahyangan bersama dipadukan dengan pementasan seni sakral pendukung upacara seperti Tari Rejang Wali, Tari Topeng Wali, dan Wayang Lemah.
Panitia telah menjadwalkan Bhakti Penganyar pada Minggu (28/6) hingga Selasa (30/6). Seluruh rangkaian akan ditutup dengan upacara Penyineban, menandai kembalinya Ida Bhatara ke payogan masing-masing.
Jaya Negara: Momentum Mempertebal Sradha dan Bhakti
Usai larut dalam persembahyangan, Jaya Negara menyebut puncak Pujawali ini sebagai momentum krusial untuk mempertebal sradha dan bhakti umat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ia menekankan bahwa upacara ini menjadi ruang doa bersama demi memohon kerahayuan dan kedamaian jagat.
"Melalui pelaksanaan Pujawali ini, semoga seluruh umat senantiasa diberikan tuntunan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sebagai implementasi ajaran Tri Hita Karana," ujar Jaya Negara.
Makna Filosofis Hari Kuningan: Kemenangan Dharma atas Adharma
Ketua PHDI Kota Denpasar I Made Arka menjelaskan, merujuk pada Lontar Sundarigama, Lontar Jaya Kusuma, dan Usana Bali, Hari Suci Kuningan diyakini sebagai momentum puncak kemenangan Dharma melawan Adharma. Perayaan ini sarat simbol filosofis yang diwujudkan melalui sarana upakara khas seperti nasi kuning sebagai lambang kemakmuran, serta tamiang dan endong sebagai simbol perlindungan diri.
"Kehadiran PHDI Kota Denpasar, majelis agama, perangkat desa adat, serta seluruh pemedek mencerminkan semangat kebersamaan dalam memohon anugerah kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa," pungkas I Made Arka.
Sebagai salah satu Pura Dang Kahyangan di Kota Denpasar, Pura Sakenan memang selalu menjadi magnet bagi umat Hindu dari berbagai daerah, terutama pada momentum pujawali dan hari raya besar.