DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa program ini bukan sekadar seremonial. Ia ingin pembangunan tidak lagi terpusat di kota atau kawasan pariwisata, melainkan tumbuh dari desa sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat Bali.
"Kita ingin memastikan bahwa pembangunan Bali tidak hanya berpusat di kota atau kawasan pariwisata saja, melainkan tumbuh subur dari akar rumputnya yaitu dari desa," tegas Koster saat peluncuran di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (15/7).
Kolaborasi Lima Pilar untuk Percepatan Pembangunan Desa
Program ini merupakan implementasi dari Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Koster menyebut, pembangunan tidak mungkin hanya dilakukan pemerintah. Sinergi diperlukan antara Pemerintah, Perguruan Tinggi, Dunia Usaha, Komunitas, dan Media.
Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki posisi strategis melalui Tri Dharma: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. KKN tidak boleh dipandang sekadar kewajiban akademik, melainkan bagian dari solusi atas persoalan di desa.
Empat Pesan Gubernur untuk Mahasiswa: Rendah Hati hingga Jadi Pemimpin Masa Depan
Kepada 12.942 mahasiswa yang akan diterjunkan, Gubernur Koster menitipkan empat pesan. Pertama, menjadi pembelajar yang rendah hati—hadir untuk mendengar, memahami, dan bekerja bersama warga. Kedua, menjadi