BALI — Strategi kecerdasan buatan Samsung untuk lini Galaxy tengah bergeser. Jika sebelumnya Galaxy AI identik dengan fitur seperti terjemahan real-time atau ringkasan teks, kini perusahaan bergerak menuju pengembangan agen AI yang mampu mengeksekusi tugas secara mandiri lintas aplikasi. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Jay Kim, Corporate EVP sekaligus Head of Customer Experience Office di divisi MX Samsung, dalam sesi diskusi AI yang digelar pekan ini.
Kim mengungkapkan bahwa masa depan Galaxy AI tidak lagi mengukur keberhasilan dari seberapa banyak fitur yang bisa diakses pengguna, melainkan seberapa sedikit intervensi manual yang dibutuhkan. "Kami ingin mengurangi waktu mengetik dan menavigasi antar aplikasi," ujarnya di hadapan jurnalis, termasuk tim Gadgets 360.
Mengapa India Jadi Ujian Terberat
Saat ditanya mengenai rencana ekspansi ke pasar berkembang, Kim secara spesifik menyoroti India. Negara dengan populasi pengguna ponsel terbesar kedua di dunia ini dinilai memiliki kompleksitas yang tidak ditemukan di pasar lain, terutama dari sisi keragaman bahasa dan pola penggunaan perangkat.
Pasar India menjadi tolok ukur penting karena kebiasaan penggunanya yang sangat bergantung pada asisten suara dan perintah dalam bahasa lokal. Samsung melihat bahwa agen AI generasi berikutnya harus mampu memproses konteks dari berbagai input—teks, suara, dan visual secara bersamaan—agar relevan di negara tersebut. Tantangan ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri yang belum sepenuhnya tuntas dijawab oleh kompetitor.
Dari Aplikasi ke Agen: Perubahan Cara Kerja Galaxy AI
Pergeseran ini bukan sekadar pembaruan fitur, melainkan perubahan arsitektur. Pada generasi awal, Galaxy AI bekerja sebagai kumpulan tool yang berjalan di dalam aplikasi tertentu. Kini, Samsung mengembangkan model yang lebih dekat dengan "copilot" sistemik—AI yang memahami konteks layar, riwayat penggunaan, dan niat pengguna untuk bertindak tanpa perlu perintah berulang.
Artinya, pengguna tidak lagi harus membuka aplikasi catatan, menyalin teks, lalu membuka aplikasi penerjemah. Cukup dengan satu perintah, sistem akan mengeksekusi seluruh rangkaian tersebut secara otomatis. Bagi pengguna di Indonesia yang terbiasa dengan multitasking, pendekatan ini berpotensi mengubah cara berinteraksi dengan ponsel secara fundamental.
Dampak ke Pengguna dan Arah Kompetisi
Bagi pengguna akhir, manfaat paling terasa adalah penghematan waktu. Tugas-tugas administratif seperti merangkum email, menjadwalkan rapat, atau mencari informasi dari tangkapan layar bisa diselesaikan dalam hitungan detik tanpa membuka banyak aplikasi.
Langkah Samsung ini juga mempertegas persaingan dengan Google dan Apple yang sama-sama menggarap teknologi agen AI. Namun, Kim menekankan bahwa keunggulan Samsung terletak pada integrasi perangkat keras dan perangkat lunak yang dimiliki secara penuh. "Kami tidak hanya mengembangkan perangkat lunaknya, tetapi juga mengontrol perangkat kerasnya. Ini memberi kami fleksibilitas yang tidak dimiliki banyak pemain lain," pungkasnya.
Belum ada jadwal pasti kapan agen AI generasi baru ini akan hadir di perangkat Galaxy. Namun, sinyal dari pernyataan eksekutif Samsung ini cukup jelas: era mengetik manual di ponsel pintar sedang menuju akhir.