Pencarian

Bau Hujan di Denpasar Kini Beraroma Beton dan Aspal, Pakar Geologi Ingatkan Jadi Penanda Lingkungan

Rabu, 19 Agustus 2026 • 16:20:48 WIB
Bau Hujan di Denpasar Kini Beraroma Beton dan Aspal, Pakar Geologi Ingatkan Jadi Penanda Lingkungan
Rintik hujan pertama di Denpasar menyentuh aspal dan beton, menghasilkan aroma yang berbeda dari tanah vulkanik yang dulu mendominasi.

DENPASAR — Perbedaan bau hujan antara Denpasar dan kota lain seperti Malang ternyata bukan sekadar soal kenangan atau sensasi. Di balik aroma khas yang tercium saat pertama rintik jatuh ke tanah, tersimpan informasi penting tentang kondisi tanah, material bangunan, dan tingkat pencemaran sebuah kota.

Made Teja Permana, seorang diaspora Bali yang kini tinggal di Malang, merasakan sendiri kontras itu. Saat pulang kampung dan menjemput teman dari Canggu menuju Jalan Hayam Wuruk, ia mencium aroma hujan yang sangat khas Bali—petrikor bercampur bau batu paras, aspal, amis, hingga parfum kembang rampai dan dupa. Di Malang, bau serupa nyaris tidak pernah ia rasakan.

"Saya justru merasa senang karena bau yang saya cium mengingatkan saya bahwa saya sudah kem-Bali," ujarnya.

Mengapa Bau Hujan di Denpasar dan Malang Berbeda?

Pakar geologi Oka Agastya menjelaskan, bau petrikor yang muncul saat hujan adalah hasil interaksi air dengan pori-pori material di permukaan tanah. Setiap medium—tanah humus, vulkanik, beton, hingga aspal—menghasilkan aroma yang berbeda karena komposisinya tidak sama.

"Setiap medium punya pori kecil-kecil, dan di pori-pori itu ada gas. Ketika air menyentuh pori-pori, air itu mendorong gasnya keluar sehingga baunya bisa tercium," jelas Oka Agastya.

Ia memerinci, bau petrikor dari tanah subur dipengaruhi mikroba sehingga menghasilkan aroma earthy. Sementara itu, beton yang berbahan dasar batu gamping (CaCo3) mengeluarkan bau khas bercampur kapur saat terkena air. Adapun aspal, yang merupakan material hidrokarbon, akan memunculkan bau kimia mendekati aroma plastik yang dipanaskan.

Petrikor dan Dampaknya bagi Masa Depan Lingkungan

Lebih jauh, Oka Agastya menyebut bau hujan juga dipengaruhi partikel yang tertangkap di lapisan ozon. Proses pembentukan hujan di langit turut menangkap debu dan partikel lain yang ikut menentukan aroma khas saat turun ke bumi.

Namun, yang paling penting adalah fungsi petrikor sebagai penanda kondisi lingkungan. Ketika bau hujan masih terasa earthy dan ada aroma hutan, itu menandakan lingkungan sekitar masih sehat. Sebaliknya, jika yang tercium dominan bau kimia, besar kemungkinan wilayah tersebut telah tercemar.

Oka Agastya menambahkan, masyarakat terdahulu memanfaatkan kepekaan ini untuk mendeteksi pergantian musim. Sayangnya, distorsi akibat banyaknya beton, batu kapur, dan aspal membuat manusia modern tidak lagi sadar akan keberadaan petrikor, padahal kemampuan itu sebenarnya alamiah.

Tanah Vulkanik Denpasar yang Mulai Tertutup Material Bangunan

Karakteristik tanah di Denpasar sebenarnya sangat kaya. Oka Agastya menyebut tanah di kota ini merupakan jenis vitik andosol, yaitu tanah hasil lapukan batuan vulkanik yang kaya unsur hara dan mineral. Kondisi ini secara alami seharusnya menghasilkan bau hujan yang khas dan menyegarkan.

Hanya saja, seiring pesatnya pembangunan, material alami itu semakin tertutup oleh beton, aspal, dan bangunan. Akibatnya, bau hujan yang tercium warga kini lebih sering didominasi aroma kimia dari material buatan manusia, bukan lagi kesuburan tanahnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota tidak hanya mengubah wajah fisik, tetapi juga lanskap sensorik dan kualitas lingkungan yang berdampak pada masa depan. Kepekaan terhadap bau petrikor yang mulai pudar adalah alarm bahwa keseimbangan alam di perkotaan sedang terganggu.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: balebengong.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks