DENPASAR — Sebuah purnama tidak lagi hadir sebagai objek tunggal di atas kanvas. Dalam lukisan 'Malam Temaram' (2026), I Wayan Sujana Suklu membangun bulan dari ribuan tanda kecil yang sama dengan elemen pengisi seluruh permukaan malam, menjadikan batas antara bulan dan langit nyaris tak terlihat.
Karya berukuran 150 × 195 sentimeter dengan medium acrylic, sodas, dan glue on canvas ini menjadi salah satu daya tarik pameran nasional 'Rupa Jnana Rasmi' dalam seri 'Purnama di Bali, Ingatan di Jeju'. Pameran yang digelar di Nata-Citta Art Space, ISI Bali, Denpasar, ini resmi dibuka oleh pecinta seni Ida Bagus Sidharta Putra dan berlangsung hingga 25 September 2026.
Repetisi yang Melahirkan Atmosfer, Bukan Sekadar Teknik
Suklu, yang juga merupakan pengajar di ISI Bali, menjelaskan bahwa pengulangan garis sederhana hingga ratusan kali bukanlah sekadar cara mengisi kanvas. Baginya, proses tersebut menghadirkan ritme, tekstur, kepadatan, arah, sekaligus atmosfer yang utuh.
"Repetisi bukan sekadar teknik visual. Pengulangan garis yang sederhana hingga ratusan bahkan ribuan kali melahirkan ritme, tekstur, kepadatan, arah, sekaligus atmosfer," ujarnya saat pembukaan pameran.
Setiap garis yang lahir dari gerakan tangan yang berulang itu pada akhirnya menjadikan kanvas sebagai arsip tubuh dan waktu. Waktu penciptaan seolah mengendap di permukaan lukisan, mengubah proses berkarya menjadi sebuah ritual yang menghubungkan fisik, kesadaran, dan material.
Dari Tanda Kecil Menjadi Medan Ingatan
Pengalaman melihat karya ini berubah seiring jarak pandang. Dari dekat, penonton akan menangkap tanda-tanda kecil yang berdiri sendiri. Ketika menjauh, tanda-tanda itu menyatu menjadi gelombang, medan, tekstur, hingga atmosfer malam yang pekat.
Purnama kuning-oranye di sudut kanan atas menjadi jangkar visual yang menahan komposisi. Namun, karena dibangun dari bahasa visual yang sama dengan latarnya, bulan dan malam dalam karya ini tidak memiliki batas yang tegas—sebuah metafora bahwa bulan dilahirkan oleh malam itu sendiri.
Konsep ini berkaitan erat dengan tema pameran yang mempertemukan Bali dan Jeju. Alih-alih melukiskan lanskap secara literal, Suklu memilih untuk membawa jejak pengalaman. Purnama yang dilihat di Bali dapat menghadirkan kembali ingatan tentang malam-malam di Jeju, dua tempat yang secara geografis berjauhan namun bertemu dalam kesadaran.
Malam yang Tidak Pernah Selesai
Kesan yang paling kuat dari 'Malam Temaram' adalah perasaan bahwa malam tidak pernah benar-benar berakhir. Repetisi garis yang bergerak horizontal tampak dapat terus berlanjut melewati batas kanvas, seolah waktu dan ingatan yang direkam tidak memiliki titik final.
Melalui karya ini, Suklu mempertemukan pengulangan, waktu, ingatan, dan pengalaman tubuh dalam satu bidang visual. Garis yang sederhana, ketika diulang tanpa henti, perlahan berubah menjadi tekstur, lalu atmosfer, dan akhirnya menghadirkan purnama.
Pada akhirnya, 'Malam Temaram' tidak hanya berbicara tentang bagaimana malam terlihat, tetapi juga tentang bagaimana tubuh mengingat, tangan mengulang, waktu mengendap, dan pengalaman berubah menjadi bentuk yang dapat dirasakan oleh siapa pun yang melihatnya.***