Pencarian

Data BWS Bali-Penida: 20 Titik Sungai Alami Penurunan Muka Air, Tukad Yeh Mawa di Tabanan Anjlok 98 Persen

Kamis, 10 September 2026 • 05:31:01 WIB
Data BWS Bali-Penida: 20 Titik Sungai Alami Penurunan Muka Air, Tukad Yeh Mawa di Tabanan Anjlok 98 Persen
Petugas memantau kondisi Tukad Yeh Mawa di Tabanan yang tercatat mengalami penurunan muka air hingga 98 persen.

DENPASAR — Data hidrologi Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida yang dirilis Selasa (8/9) menunjukkan tren penurunan muka air yang merata di sejumlah sungai besar. Kondisi ini menjadi sinyal awal tekanan serius terhadap ketersediaan air bersih dan irigasi pertanian di Pulau Dewata.

Penurunan terdalam tercatat di Tukad Yeh Mawa, Tabanan, di mana rata-rata TMA musim hujan sebesar 0,409 meter menyusut drastis menjadi hanya 0,008 meter pada musim kemarau. Angka ini menggambarkan debit air yang hampir habis di bagian hulu sungai tersebut.

Enam Kabupaten Terdampak, Ini Rincian Penurunan TMA Terbesar

Data perbandingan yang dihimpun hingga Agustus 2026 mencakup wilayah Gianyar, Tabanan, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Badung. Selain Yeh Mawa, penurunan signifikan juga terjadi di sejumlah sungai lain yang menjadi andalan irigasi.

  • Tukad Yeh Embang, Jembrana: turun 72 persen, dari 0,757 meter menjadi 0,212 meter.
  • Tukad Yeh Sumbul, Jembrana: turun 63 persen, dari 0,416 meter menjadi 0,152 meter.
  • Tukad Badung Hulu, Badung: turun 58 persen, dari 0,296 meter menjadi 0,125 meter.
  • Tukad Yeh Otan, Tabanan: turun 41 persen, dari 0,930 meter menjadi 0,551 meter.

Mengapa Penurunan Muka Air Sungai di Bali Bisa Sangat Ekstrem?

PPK PSDA BWS Bali-Penida, Asep Yusuf, Rabu (9/9), mengatakan penurunan TMA tersebut sejalan dengan kondisi iklim Bali yang masih berada dalam periode kemarau. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan dan pemantauan ketersediaan air, khususnya selama periode musim kemarau.

Fenomena El Nino disebut berpotensi mempertahankan kondisi lebih kering dari normal. BMKG Stasiun Klimatologi Bali pada 8 September 2026 memprakirakan curah hujan September umumnya hanya 1–50 mm dengan sifat hujan dominan bawah normal, dan kondisi kering diprakirakan berlanjut hingga Oktober.

Dampak ke Sektor Pertanian dan Distribusi Air Bersih

BPBD Bali mencatat dampak kekeringan pada 2026 telah terjadi di sejumlah kabupaten. Distribusi air bersih telah dilakukan ke wilayah terdampak menyusul peringatan dini kekeringan meteorologis yang dikeluarkan untuk periode 1–10 September.

Meski mayoritas sungai turun drastis, tidak semua titik mengalami penyusutan besar. Tukad Pakerisan di Gianyar hanya turun sekitar 1 persen, dari 0,855 meter menjadi 0,851 meter, sementara Tukad Melaya di Jembrana tercatat turun 4 persen. Hal ini menunjukkan karakteristik hidrologi yang berbeda antar wilayah aliran sungai.

Dengan prakiraan hujan yang baru mulai meningkat pada November, pemerintah daerah dan warga diimbau menghemat penggunaan air untuk kebutuhan domestik maupun pertanian selama sisa musim kemarau.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: balipost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks