DENPASAR — Buku-buku bertema pengembangan diri dan penyembuhan diri, atau yang dikenal dengan self healing, mulai mendapat tempat di hati pembaca di Bali. Hal ini diungkapkan oleh praktisi hipnoterapi di Pulau Dewata, I Made Sumerta, yang melihat adanya pergeseran minat baca masyarakat setempat.
"Memang tren di Bali dulu belum begitu banyak untuk buku-buku pengembangan diri, tapi sekarang sudah mulai meningkat," ujar Sumerta, Jumat (15/5/2026).
Budaya Penyembuhan yang Sudah Mengakar
Sumerta menjelaskan, masyarakat Bali sejak lama sudah terbiasa dengan berbagai praktik penyembuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini, menurutnya, membuat konsep penyembuhan diri melalui buku lebih mudah diterima.
"Itu membuat buku-buku bertema pengembangan diri dan hipnoterapi semakin mudah diterima masyarakat," imbuhnya.
Para praktisi healing di Bali pun mulai banyak yang menulis dan menerbitkan buku mereka sendiri. Akibatnya, ragam buku pengembangan diri yang tersedia di pasaran pun kian beragam.
"Sekarang sudah mulai berkembang dan beberapa rekan kami juga sudah mulai produksi buku itu sendiri. Jadi saya rasa perkembangannya sudah mulai naik," kata Sumerta.
Tekanan Hidup di Balik Citra Slow Living
Di balik tren positif ini, Sumerta menyoroti kondisi yang kontras. Ia menilai tingginya tekanan hidup yang dialami masyarakat Bali, terutama di tengah hiruk-pikuk industri pariwisata dan citra slow living yang melekat pada pulau tersebut.
"Ini adalah dunia internasional, pariwisata, sementara kita masih standar saja kehidupan, bahkan UMR atau di bawah itu. Itu yang menjadi beban mental sendiri," ungkap Sumerta.
Menurutnya, membaca buku self healing dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat untuk menemukan cara mengatasi persoalan mental yang mereka hadapi. Tren ini dinilai akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di Bali.