Pencarian

Juru Parkir di Denpasar yang Fotonya Viral Angkat Suara, Beban Berat Ditanggung Anak dan Istri di Rumah

Kamis, 03 September 2026 • 20:55:02 WIB
Juru Parkir di Denpasar yang Fotonya Viral Angkat Suara, Beban Berat Ditanggung Anak dan Istri di Rumah
Juru parkir di Denpasar, Agung Anom, menyampaikan klarifikasi terkait fotonya yang viral di media sosial.

DENPASAR — Beban berat kini ditanggung Pak Agung Anom setiap kali melangkahkan kaki menuju tempatnya bekerja di Jalan Akasia, Denpasar. Pria yang menggantungkan hidup keluarganya dari profesi juru parkir itu menjadi sasaran kemarahan publik setelah fotonya viral di media sosial.

Bagi Pak Agung, rompi seragam Perumda Parkir yang ia kenakan bukan sekadar pakaian kerja. Rompi itu adalah simbol perjuangan jujur untuk menyambung hidup anak dan istrinya di tengah kerasnya kehidupan kota.

Foto Tersebar Tanpa Izin, Hidup Berubah Sekejap

Pak Agung mengaku tidak pernah menyangka unggahan fotonya akan berubah menjadi penghakiman massal. Padahal, selama bertugas, ia selalu berusaha menyapa dan membantu warga dengan baik.

Ia menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk merugikan para pedagang maupun pembeli yang beraktivitas di Jalan Akasia. Jika ada warga yang hanya membelanjakan sedikit uang atau mengaku tak punya uang pas, Pak Agung mengaku tak pernah memaksakan pungutan.

Mengapa Juru Parkir Ini Menjadi Sasaran Emosi Publik?

Kemarahan netizen tidak lepas dari polemik retribusi parkir yang tengah ramai diperbincangkan. Di tengah situasi itu, foto Pak Agung beredar luas dan ia pun dijadikan sasaran kritik tanpa ia sempat memberi klarifikasi.

Pria yang sehari-hari mengabdi di jalanan ini tidak membela diri jika memang ada kekurangan dalam tugasnya. Namun, ia merasa mekanisme penghakiman di dunia maya tidak adil bagi keluarga kecilnya yang sama sekali tidak tahu-menahu soal persoalan itu.

Rasa Minder Menyertai Langkah Kaki Seorang Pencari Nafkah

Sejak foto dirinya viral, aktivitas Pak Agung di jalanan tidak lagi sama. Ada rasa minder dan kecemasan berat yang menyertainya, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan saat menjalankan tugas.

Ia bertahan sebagai juru parkir karena profesi itu adalah satu-satunya cara halal untuk menghidupi anak dan istrinya. Tekanan batin yang ia pendam kini menjadi beban tambahan di luar pekerjaannya yang sudah berat.

Pak Agung berharap publik tidak menilai dirinya hanya dari satu momen yang tersebar luas tanpa memahami konteks kehidupannya sebagai pekerja harian yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: balikonten.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks