Pencarian

Liburan ke Swiss Makin Mahal, Kunjungan Wisatawan Indonesia Turun 38,7 Persen

Rabu, 04 November 2026 • 13:02:31 WIB
Liburan ke Swiss Makin Mahal, Kunjungan Wisatawan Indonesia Turun 38,7 Persen
Kunjungan wisatawan Indonesia ke Swiss turun 38,7 persen pada Januari-Agustus 2026 akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga avtur.

BALI — Kunjungan wisatawan Indonesia ke Swiss anjlok 38,7 persen pada Januari-Agustus 2026, dengan hanya 35.124 malam menginap tercatat dibandingkan 57.255 malam pada periode sama tahun lalu. Pelemahan rupiah terhadap franc Swiss hingga 8,93 persen dan kenaikan harga avtur menjadi penyebab utama membengkaknya biaya perjalanan. Kondisi ini menempatkan Indonesia di posisi terakhir kontribusi pasar Asia Tenggara ke Swiss.

Pada Agustus 2025, satu franc Swiss masih setara Rp 20.507. Setahun kemudian, wisatawan Indonesia harus merogoh sekitar Rp 22.339 untuk mata uang yang sama. Selisih itu cukup terasa saat menghitung biaya akomodasi, transportasi, dan konsumsi harian selama di Swiss.

Duta Besar Designate Swiss untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, menyebut faktor nilai tukar bukan satu-satunya pemicu. Biaya bahan bakar dan avtur yang naik turut mendorong tarif penerbangan.

"Bukan hanya nilai tukar franc Swiss terhadap rupiah, tetapi harga bahan bakar dan avtur juga semakin mahal," ujar Obolensky dalam acara Switzerland Tourism Annual Media Briefing di Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2026).

Posisi Indonesia di Pasar Asia Tenggara

Dari lima negara Asia Tenggara yang diperhitungkan, Indonesia berada di urutan terakhir dengan kontribusi 11 persen terhadap total malam menginap wisatawan kawasan. Singapura memimpin dengan porsi 34,8 persen, disusul Thailand 25,8 persen, Malaysia 17 persen, dan Filipina 11,4 persen.

Singapura menikmati kombinasi kekuatan ekonomi, ketersediaan penerbangan langsung, dan fasilitas bebas visa. Malaysia juga mendapat keuntungan serupa lewat bebas visa untuk kunjungan singkat hingga 90 hari.

Sementara itu, perjalanan warga Thailand ke Swiss banyak dipengaruhi kunjungan keluarga dan reuni dengan komunitas warga Swiss di sana. Adapun Filipina ditopang pertumbuhan ekonomi yang mendorong kemampuan warganya bepergian ke luar negeri.

Total Kunjungan Asia Tenggara Ikut Menyusut

Secara keseluruhan, wisatawan Asia Tenggara menghasilkan 282.831 malam menginap di Swiss sepanjang Januari-Agustus 2026. Angka itu turun 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan dari Indonesia jauh lebih dalam ketimbang rata-rata kawasan. Artinya, faktor daya beli dan biaya transportasi menjadi hambatan yang lebih berat bagi traveler Indonesia dibandingkan negara tetangga.

Bebas Visa Belum Jadi Opsi

Obolensky menyatakan belum ada rencana pemberian fasilitas bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Meski demikian, ia menilai biaya visa bukan komponen penentu utama dalam menyusun anggaran perjalanan ke Swiss.

"Pada akhirnya, biaya visa hanya mengambil porsi yang sangat kecil dari keseluruhan biaya perjalanan ke Swiss," kata dia.

Bagi traveler Indonesia yang tetap ingin menjajal Swiss, perhitungan anggaran perlu dilakukan lebih cermat. Memantau kurs franc Swiss sebelum menukar uang, memesan tiket penerbangan jauh hari, dan memilih musim kunjungan yang tidak bertepatan dengan lonjakan harga bisa membantu menekan pengeluaran.

Informasi terkini soal tarif penerbangan dan kebijakan visa dapat dikonfirmasi melalui kedutaan atau agen perjalanan resmi.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks