BALI — PT Danantara Investment Management (DIM) menempatkan Rp 123,03 triliun atau 87,8 persen dari total asetnya dalam bentuk kas dan deposito berjangka per 30 April 2026. Penempatan dana di bank Himbara itu menopang laba bersih DIM menjadi Rp 705,73 miliar, jauh di atas capaian sepanjang tahun buku 2025 yang hanya Rp 116,33 miliar.
Jakarta — Angka itu terungkap dalam prospektus penerbitan Global Medium Term Note DIM di Bursa Efek Singapura (SGX). Total aset DIM tercatat Rp 140,02 triliun atau US$ 8,05 miliar, dengan porsi kas dan setara kas mencapai US$ 7,08 miliar. Posisi ini turun dari Rp 131,61 triliun per 31 Desember 2025 seiring mulai mengalirnya dana ke alokasi investasi lain.
DIM merupakan entitas bisnis Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia). Sepanjang empat bulan pertama 2026, perseroan membukukan pendapatan bunga deposito Rp 2,12 triliun atau US$ 122,25 juta. Setelah dipotong pajak final atas bunga Rp 424,91 miliar, pendapatan kotor tercatat Rp 1,09 triliun.
Bank Mandiri Kantongi Porsi Terbesar
Mayoritas dana mengendap di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menampung Rp 56,56 triliun dalam deposito berjangka rupiah, menjadikannya penempatan terbesar.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing menerima Rp 36 triliun. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menyimpan Rp 17,1 triliun, sedangkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 6 triliun.
Selain deposito rupiah, DIM menempatkan dana dalam denominasi dolar AS di BMRI dan BBNI senilai total Rp 5 triliun. Penempatan valas ini ikut menyumbang keuntungan selisih kurs (gain on foreign exchange) Rp 306,03 miliar.
Modal Rp 70 Triliun dan Obligasi Patriot
Dana kelolaan DIM tidak hanya berasal dari deposito. Pada 2025, perseroan menerima injeksi modal Rp 70 triliun dari Danantara Indonesia selaku pemegang saham tunggal. DIM juga menghimpun dana lewat penerbitan obligasi swasta Patriot Bonds secara bertahap hingga Rp 68,38 triliun per Maret 2026.
Manajemen DIM menyatakan menerapkan pengelolaan keuangan yang prudent dan disiplin. Tujuannya menjaga indikator keuangan serta peringkat kredit tetap dalam batas ambang internal yang ditetapkan, seperti tertulis dalam dokumen prospektus tersebut.
Dana Mulai Dialihkan ke Instrumen Investasi
Meski deposito masih mendominasi, laporan keuangan menunjukkan pergeseran alokasi. Nilai aset investasi DIM melonjak dari Rp 30,01 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp 16,63 triliun per 30 April 2026.
Dana itu ditempatkan pada surat berharga (marketable securities) serta entitas anak atau subholding. Langkah ini menandakan DIM mulai keluar dari posisi parkir kas murni menuju portofolio investasi yang lebih produktif.
Bagi perbankan pelat merah, penempatan Rp 123 triliun ini menjadi sumber likuiditas besar di tengah persaingan dana pihak ketiga. Sementara bagi Danantara, laba bersih DIM yang melesat dari Rp 116,33 miliar menjadi Rp 705,73 miliar dalam empat bulan menunjukkan mesin pendapatan dari instrumen likuid masih jadi tulang punggung sebelum strategi investasi jangka panjang berjalan penuh.