BALI — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan komitmennya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, seraya memperingatkan bahwa kekuatan militer tetap menjadi pilihan jika perundingan menemui jalan buntu. "Saya lebih memilih membuat kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang," ujarnya dalam sebuah acara di Las Vegas, Rabu (6/8), melansir Anadolu.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling jelas dari pemerintahan AS mengenai arah kebijakan luar negerinya terhadap Tehran dalam beberapa pekan terakhir. Trump mengklaim pemerintahannya sempat bersiap melancarkan "serangan terbesar sejak Perang Dunia II," namun rencana itu ditunda setelah adanya permintaan dialog langsung dari pejabat Iran.
Klaim Negosiasi di Balik Layar dan Respons Tehran
"Mereka menelepon saya dan berkata, 'Tolong jangan lakukan itu. Mari kita bicara,'" ungkap Trump, menambahkan bahwa pihak Iran membantah telah melakukan kontak tersebut. "Anda tahu? Media 'berita palsu' (fake news) tahu bahwa mereka memang mengatakannya, tapi kita sedang berdialog. Kita lihat saja apa yang terjadi, namun mereka menghormati kita," urai Presiden AS itu.
Meski mengklaim adanya komunikasi, Trump tidak memberikan detail mengenai substansi pembicaraan atau jadwal pertemuan lanjutan. Ia hanya menegaskan pendiriannya yang tidak berubah: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Dampak terhadap Harga Minyak dan Stabilitas Kawasan
Di luar isu keamanan, Trump mengaitkan penyelesaian konflik dengan fluktuasi harga energi global. "Kami telah berupaya menurunkan harga, dan begitu situasi dengan Iran ini berakhir, harga minyak akan anjlok dan harga bensin pun akan turun," jelasnya. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat konflik yang melibatkan Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.
Eskalasi di kawasan Timur Tengah dimulai setelah serangan AS-Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu aksi balasan ke wilayah Israel serta target terkait AS. Washington dan Tehran sebenarnya telah menandatangani kesepakatan kerangka kerja pada 18 Juni dan memulai negosiasi menuju perjanjian akhir. Namun, pembicaraan tersebut terhenti karena perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Ketegangan Terbaru di Yordania, Bahrain, dan Kuwait
Bulan lalu, situasi kembali memanas ketika AS melancarkan serangan di wilayah Iran. Sebagai respons, Tehran menargetkan apa yang mereka sebut sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara Arab, khususnya Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Rentetan serangan ini meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas dan menekan pemerintahan Trump untuk mengambil sikap tegas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran mengenai klaim Trump soal komunikasi langsung tersebut. Juru bicara Gedung Putih juga belum memberikan keterangan tambahan terkait status terkini perundingan atau kemungkinan jadwal pertemuan tatap muka antara kedua negara.