BALI — Fan Bingbing kembali ke layar internasional lewat film Diary of a Mad Old Man, adaptasi novel Tanizaki Jun'ichir? tahun 1961 garapan sutradara Wayne Wang. Film ini menggelar tayang perdana dunia di Toronto Film Festival pada seksi gala presentations, sekaligus terpilih sebagai salah satu judul di Busan International Film Festival. Peran Susu disebut Fan sebagai karakter paling menantang yang pernah ia mainkan dalam beberapa tahun terakhir.
Premis dan Karakter Susu
Fan berperan sebagai Susu, menantu sekaligus satu-satunya perawat bagi Utsugi yang diperankan aktor Jepang Lily Franky. Novel asli Tanizaki memang menghadirkan Susu sebagai sosok provokatif, dan Fan memilih mempertahankan keberanian serta misteri karakter itu sambil menambahkan luka yang lebih terlihat.
"Saya ingin penonton melihat bahwa di balik sisi provokatifnya, ada juga kesepian dan kerapuhan," kata Fan. "Dia bukan sekadar satu hal."
Fan menolak membingkai Susu sebagai predator atau korban. Menurutnya, kekuatan yang dipertaruhkan lebih soal bertahan hidup ketimbang dominasi.
Dinamika dengan Lily Franky di Lokasi Syuting
Fan dan Franky bekerja erat dengan Wang untuk menemukan register yang tepat bagi hubungan kedua tokoh. Keduanya memperlakukan ikatan itu sebagai sesuatu yang dibangun atas hasrat dan imajinasi, bukan keintiman fisik konvensional. Sikap Susu yang mendekat atau menjauh dibiarkan berubah dari adegan ke adegan, sehingga tak ada satu tafsir yang mengeras.
"Ada kelembutan, hasrat, ketergantungan, dan juga ketidaknyamanan," ujar Fan. "Semua hal itu bisa ada bersama-sama."
Fan sengaja tidak memutuskan, bahkan untuk dirinya sendiri, bagaimana perasaan Susu sebenarnya terhadap Utsugi di setiap momen. Ia tak ingin menentukan bagi penonton apakah Susu mencintai, mengasihani, memanfaatkan, atau merasakan ketiganya sekaligus.
"Emosi manusia jarang sepenuhnya murni atau sederhana," katanya. "Saya berharap setiap orang bisa punya tafsirnya sendiri tentang dia."
Identitas China dalam Keluarga Jepang
Status Susu sebagai perempuan China di dalam keluarga Jepang menjadi salah satu pilihan produksi yang paling tajam, sekaligus penyimpangan dari teks asli Tanizaki. Fan menyebut posisi orang luar itu membentuk hampir setiap adegan yang ia mainkan, dan menarik garis langsung antara posisi Susu dengan pengalamannya sendiri bekerja lintas negara.
"Ketika Anda masuk ke budaya lain, Anda selalu mengamati: bagaimana orang berkomunikasi, apa yang tidak mereka katakan, hubungan-hubungannya," ujarnya. "Kadang menjadi orang luar membuat Anda lebih peka terhadap hal-hal itu."
Wang, yang banyak membangun kariernya lewat karakter-karakter berpindah budaya, tidak pernah meminta Fan memerankan Susu sebagai orang Jepang. Ia justru mendorong Fan mengandalkan instingnya sendiri.
Pandangan soal Perempuan Modern
Fan menilai perempuan seperti Susu hari ini menempati posisi sosial berbeda dibanding awal 1960-an, dengan kesadaran lebih besar atas pilihannya sendiri.
"Saya tidak ingin mendekati seksualitasnya sebagai sesuatu yang otomatis membuatnya amoral atau provokatif," kata Fan. "Dia memahami tubuhnya, daya tariknya, dan efeknya pada Utsugi, dan saya pikir dia berhak punya kesadaran itu."
Menjadi perempuan modern, lanjutnya, tidak berarti sepenuhnya bebas. Ketergantungan finansial, ekspektasi keluarga, kesepian, dan hubungan yang timpang masih ada sampai sekarang. Kontradiksi itulah yang paling menarik baginya: Susu punya agensi, tapi juga punya batasan.
Jejak Karier Internasional Fan Bingbing
Peran ini menandai penyimpangan tajam dari produksi China berskala besar dan peran-peran berbintang yang lama membentuk citra publik Fan. Pada tahap kariernya sekarang, ia mengaku lebih peduli apakah sebuah karakter menggerakkannya ketimbang apakah sesuai dengan citra tertentu. Ia menikmati peran yang membuat penonton lupa sedang menonton Fan Bingbing dan hanya melihat karakternya.
Di sisi lain, Diary of a Mad Old Man melanjutkan rangkaian kolaborasi internasional Fan sejak 2023, ketika Green Night arahan Han Shuai tayang perdana di seksi Panorama Berlin Film Festival. Karier Wang sendiri membentang lebih dari empat dekade, dengan kredit seperti Chan Is Missing (1982), The Joy Luck Club (1993), dan Smoke yang memenangi Silver Bear Grand Jury Prize di Berlinale 1995.
Dengan tayang perdana di Toronto dan seleksi Busan, Diary of a Mad Old Man menegaskan posisi Fan Bingbing sebagai aktor China yang makin aktif di sirkuit festival internasional, sekaligus menguji seberapa jauh ia bisa melepas label bintang besar yang melekat padanya.