BADUNG — Puluhan siswa SMA terlihat fokus menekuni anyaman janur dan rangkaian bunga di Museum Yadnya, Senin (10/8/2026). Mereka bukan sekadar belajar keterampilan tangan, melainkan mewarisi pengetahuan leluhur yang semakin jarang dilirik generasi muda.
Program yang digelar pada 10-12 Agustus ini diikuti 150 siswa SMA. Pembiayaannya berasal dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), sebuah sinyal bahwa pelestarian tradisi bukan lagi urusan desa adat semata, melainkan masuk prioritas pemerintah pusat.
Mengapa Sesajen Menjadi Materi Wajib bagi Pelajar SMA
Sesajen atau banten dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar hiasan. Setiap elemen memiliki makna filosofis yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dengan mengenalkan pembuatan sesajen sejak dini, para siswa diharapkan tidak hanya paham tata caranya, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Materi ini menjadi penting di tengah arus modernisasi yang kerap menggeser praktik budaya lokal.
Museum Yadnya: Ruang Belajar di Tengah Pusat Kebudayaan
Pemilihan Museum Yadnya sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Museum ini menyimpan koleksi perlengkapan upacara dan sarana persembahan yang menjadi referensi visual bagi para siswa.
Belajar langsung di museum memberikan pengalaman berbeda dibanding sekadar membaca buku atau menonton video. Para siswa dapat melihat secara langsung berbagai jenis sesajen, bahan baku, serta proses pembuatannya dari para pendamping.
Anggaran DAK: Komitmen Pemerintah pada Pelestarian Budaya
Pembiayaan program ini melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Kebudayaan menunjukkan adanya perhatian serius terhadap keberlanjutan tradisi. DAK selama ini lebih banyak dikenal untuk pembangunan infrastruktur fisik, namun kini mulai menyentuh sektor kebudayaan.
Langkah ini dinilai strategis karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan dokumentasi, tetapi membutuhkan transfer pengetahuan langsung kepada generasi penerus. Melalui program ini, pemerintah mencoba menjembatani kesenjangan antara tradisi dan generasi muda yang hidup di era digital.
Harapan ke Depan: Dari Museum ke Kehidupan Sehari-hari
Kegiatan selama tiga hari ini diharapkan menjadi pemicu bagi sekolah-sekolah lain untuk menghadirkan program serupa. Keterampilan membuat sesajen tidak hanya berguna untuk kepentingan upacara, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis budaya.
Di tengah gempuran budaya asing, keberadaan generasi muda yang memahami dan mencintai tradisinya sendiri menjadi benteng terakhir pelestarian budaya Bali. Program ini menjadi langkah kecil yang diharapkan membawa dampak besar bagi masa depan warisan leluhur di Pulau Dewata.