Pencarian

NavigateAI Didirikan Eks CEO Opendoor, AI untuk Atasi Krisis Pekerja Konstruksi

Selasa, 08 September 2026 • 10:33:01 WIB
NavigateAI Didirikan Eks CEO Opendoor, AI untuk Atasi Krisis Pekerja Konstruksi
Pendiri NavigateAI, Eric Wu, memaparkan cara kerja teknologi AI untuk membantu pekerja konstruksi di proyek data center.

BALI — Krisis kekurangan tenaga kerja konstruksi menjadi masalah serius di Amerika Serikat. Associated Builders and Contractors mencatat dibutuhkan sekitar 349.000 pekerja tambahan pada tahun ini saja untuk memenuhi permintaan pasar. Kondisi ini mendorong Eric Wu, mantan CEO Opendoor, untuk kembali membangun perusahaan dengan fokus pada solusi berbasis kecerdasan buatan.

Target Pasar yang Spesifik: Proyek Data Center Raksasa

Kebutuhan pekerja konstruksi semakin mendesak seiring menjamurnya proyek data center berskala besar. Jika sebelumnya proyek kampus data center besar membutuhkan sekitar 750 pekerja di puncak pembangunan, kini proyek terbesar memerlukan 4.000 hingga 5.000 orang. Sebagai gambaran, kampus Hyperion milik Meta di Richland Parish, Louisiana, dilaporkan membutuhkan sekitar 5.000 pekerja konstruksi. Sementara itu, proyek Stargate OpenAI di Abilene, Texas, melibatkan 6.400 pekerja.

Perusahaan staffing global Kelly menyebut 90% operator data center kini menganggap kekurangan staf sebagai kendala kritis dalam kemampuan mereka membangun atau memperluas fasilitas. Kelangkaan pekerja ini bahkan disebut lebih jarang dibahas dibandingkan kebutuhan modal dan energi untuk proyek raksasa tersebut.

Cara Kerja NavigateAI di Lapangan

Produk inti NavigateAI berjalan di ponsel pintar dan, dalam mode hands-free, melalui kacamata AI besutan Meta. Konsepnya sederhana: seorang pekerja konstruksi mengarahkan kamera ke objek yang sedang dibangun, lalu bertanya dalam bahasa sehari-hari—apakah pemasangannya sudah benar, apakah torsi sudah sesuai, atau apakah sudah memenuhi standar kode bangunan.

Eric Wu menjelaskan sistem ini mampu menarik spesifikasi bangunan, manual pabrikan, dan kebijakan perusahaan secara real-time. Mode hands-free dinilai lebih unggul karena pekerja tidak perlu menatap layar ponsel di lokasi proyek yang berisiko. NavigateAI saat ini bekerja sama dengan Meta untuk mendapatkan sertifikasi keamanan kacamata tersebut di lingkungan yang mewajibkan alat pelindung mata.

Pendanaan dan Dukungan Investor Strategis

Perusahaan yang baru keluar dari mode stealth ini mengantongi pendanaan awal US$25 juta dengan valuasi pasca-pendanaan US$225 juta. Putaran ini dipimpin Elad Gil dengan partisipasi Khosla Ventures, Fifth Wall, raksasa real estate Lennar, Tishman Speyer, kontraktor listrik Helix Electric, serta sejumlah angel investor seperti Tony Xu (DoorDash), Apoorva Mehta (Instacart), dan Brian Armstrong (Coinbase).

Dukungan ini tidak mengejutkan mengingat jejaring Wu di industri real estate dan Silicon Valley. Elad Gil adalah investor Opendoor, sementara Keith Rabois dari Khosla Ventures ikut mendirikan Opendoor. Vinod Khosla sendiri dikenal vokal mendukung startup yang membangun berbagai jenis "pekerja" AI, mulai dari onkolog, desainer chip, hingga pekerja konstruksi.

Model Bisnis Berbasis Nilai yang Diciptakan

Pada awalnya NavigateAI menggunakan struktur harga token-plus-margin—mirip SaaS berbasis pemakaian. Kini perusahaan beralih ke skema bagi hasil dari nilai yang diciptakan. Jika NavigateAI membantu pengembang mengurangi biaya total pembangunan rumah dari US$300.000 menjadi US$280.000, maka perusahaan mengambil sekitar 20% dari penghematan US$20.000 tersebut.

Wu menyebut Lennar—salah satu perusahaan konstruksi rumah terbesar di AS sekaligus investor NavigateAI—menghabiskan sekitar US$9 miliar per tahun untuk tenaga kerja, instalasi, dan konstruksi. Peningkatan efisiensi 5% hingga 10% saja berarti penghematan ratusan juta dolar.

Kemitraan Strategis dan Tantangan Adopsi

NavigateAI juga bermitra dengan AIM, sekolah perdagangan instalasi fiber yang didukung Meta dan menjamin penempatan kerja bagi lulusannya. Kemitraan ini memberi perusahaan saluran untuk menjangkau pekerja sebelum mereka menginjakkan kaki di lokasi proyek.

Adopsi teknologi ini menghadapi tantangan menarik. Wu mengamati kurva adopsi terbelah tajam antara pekerja muda yang antusias menggunakan produk dan pekerja berpengalaman 30 tahun yang lebih percaya insting mereka sendiri. Kelompok terakhir ini tidak antusias memakai komputer di wajah mereka.

Bagi pasar Indonesia, model AI copilot untuk pekerja lapangan ini bisa menjadi referensi menarik. Sektor konstruksi lokal juga menghadapi tantangan produktivitas dan kebutuhan efisiensi biaya yang terus meningkat, terutama untuk proyek infrastruktur berskala besar.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks