BALI — BMKG Sumatera Utara buka suara terkait fenomena Matahari yang terlihat merah oleh warga Medan, Minggu (6/9). Dalam unggahan Instagram resminya, Senin (7/9), lembaga tersebut menegaskan peristiwa itu murni fenomena optik atmosfer.
"Fenomena Matahari tampak merah yang terlihat masyarakat Medan kemarin pada dasarnya merupakan efek optik atmosfer," tulis BMKG Sumatera Utara.
Proses Terjadinya Matahari Merah
Warna kemerahan yang terlihat bukan berasal dari perubahan fisik Matahari. Cahayanya justru mengalami proses hamburan dan penyaringan sebelum sampai ke mata pengamat di Bumi.
Partikel di atmosfer seperti aerosol, debu, dan asap memainkan peran kunci. Partikel-partikel ini membuat cahaya biru lebih banyak dihamburkan, sehingga cahaya yang dominan sampai ke mata adalah spektrum merah atau jingga.
Efek ini semakin jelas terlihat saat posisi Matahari rendah, seperti pagi atau sore hari. Untuk kasus Medan, BMKG menduga keberadaan aerosol di atmosfer menjadi faktor penguat utama warna kemerahan tersebut.
Data Dukung: Udara Lembap dan Kabut Tipis
BMKG mencatat kondisi haze atau udara kabur terjadi di Kota Medan dan sekitarnya pada sore hingga malam hari. Data dari Automatic Solar Radiation Station (ASRS) Stasiun Klimatologi Sumatera Utara pada 6 September memperkuat dugaan ini.
Intensitas radiasi Matahari atau Global Horizontal Irradiance (GHI) mencapai puncak 1.099,7 watt per meter persegi (W/m²) pada pukul 11.49 WIB. Saat itu, suhu udara tercatat 32,2 derajat Celsius dengan kelembapan udara 71 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan udara yang panas dan cukup lembap, bukan kering. Uap air yang banyak, berpadu dengan partikel aerosol, memengaruhi cara cahaya Matahari dihamburkan. BMKG menjelaskan GHI merupakan ukuran radiasi Matahari yang memperhitungkan seluruh radiasi yang sampai ke sensor.
Imbauan untuk Warga Medan
BMKG mengimbau masyarakat tidak panik atau mengaitkan fenomena ini dengan hal-hal supranatural. Yang perlu diwaspadai justru kualitas udara.
Apabila udara tampak berkabut atau berasap dan jarak pandang menurun, warga diminta memperhatikan kondisi kesehatan serta memantau informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait.